Masyarakat

Tyranny of the Timestamp: Mengapa Kita Lebih Percaya Pixel daripada Matahari Saat Buka Puasa?

Pukul 17:45. Kegelisahan melanda. Bukan karena lapar, tapi karena baterai smartphone tinggal 5%. Kita telah menukar suara bedug dengan getaran notifikasi, dan dalam prosesnya, menyerahkan otonomi spiritual kita pada algoritma Silicon Valley.

SA
Siti Aminah
24 Februari 2026 pukul 11.013 menit baca
Tyranny of the Timestamp: Mengapa Kita Lebih Percaya Pixel daripada Matahari Saat Buka Puasa?

Ada ironi yang pahit di meja makan kita setiap senja selama bulan suci ini. Di hadapan kolak dan kurma, jutaan leher menunduk, disinari cahaya biru artifisial, menanti sebuah 'wahyu' digital. Pertanyaannya bukan lagi "Apakah matahari sudah terbenam?", melainkan "Apakah aplikasi hijau itu sudah mengirim notifikasi?"

Mari kita bersikap skeptis sejenak. Sejak kapan kemampuan biologis dan observasional manusia untuk mengenali malam menjadi begitu tumpul sehingga kita membutuhkan presisi hingga ke detik (17:58:32 WIB) untuk diizinkan makan? Fenomena "Jadwal Buka Puasa Hari Ini" bukan sekadar kenyamanan; ini adalah gejala pergeseran kepercayaan fundamental. Kita tidak lagi mempercayai alam, atau telinga kita sendiri yang mendengar adzan dari masjid sebelah. Kita hanya percaya pada data yang dikirim dari server yang entah berada di mana.

"Smartphone telah menjadi muadzin baru kita. Tapi tidak seperti muadzin, ia tidak memanggil kita untuk sholat; ia memanggil kita untuk membuka kunci layar, melihat iklan pop-up, dan tenggelam dalam notifikasi lain sebelum air sempat membasahi tenggorokan."

Ekonomi Penantian (The Economy of Waiting)

Pikirkan desainnya. Momen menjelang berbuka adalah prime time keterlibatan pengguna. Rasa lapar membuat kita rentan, tidak sabar, dan terus-menerus mengecek layar (sebuah perilaku yang dikenal sebagai checking habit). Para pengembang aplikasi tahu ini. Mereka tidak mendesain notifikasi adzan sekadar sebagai pengingat; mereka mendesainnya sebagai pemicu dopamin.

Anda membuka aplikasi untuk melihat waktu tersisa (masih 4 menit). Tapi apa yang terjadi? Mata Anda menangkap banner promo pesan-antar makanan. Atau berita selebriti yang sedang tren. Atau notifikasi WhatsApp yang "sayang jika tidak dibalas".

Tanpa sadar, momen sakral penantian—yang seharusnya diisi dengan doa atau refleksi diam—telah dibajak. Mantra harian kita bukan lagi dzikir, melainkan refresh, scroll, refresh. Kita sedang dijebak dalam siklus destructive design di mana kebutuhan religius (mengetahui waktu sholat) ditunggangi oleh imperatif kapitalis (pertahankan atensi pengguna selama mungkin).

👀 Mengapa presisi waktu di aplikasi justru membuat kita stres?

Obsesi pada presisi detik (misal: 17:59 WIB tepat) menciptakan kecemasan artifisial. Secara fikih, berbuka puasa didasarkan pada fenomena alam (tenggelamnya matahari), yang merupakan proses gradual, bukan binary switch digital. Aplikasi memaksa kita melihat waktu sebagai angka kaku, menghilangkan fleksibilitas dan ketenangan alami dari transisi siang ke malam. Kita menjadi budak jam, bukan penikmat waktu.

Hilangnya Sinkronisasi Komunal

Dulu, tanda berbuka adalah peristiwa komunal. Suara bedug atau sirine membelah udara, didengar serentak oleh satu kota. Ada rasa kebersamaan fisik. Sekarang? Pengalaman itu teratomisasi. Setiap orang menatap layar masing-masing, menunggu getaran personal di saku mereka. Anda mungkin berbuka 30 detik lebih lambat dari orang di sebelah Anda karena latensi jaringan internet operator Anda sedang buruk. Absurd, bukan?

Teknologi menjanjikan koneksi, tetapi dalam ritual ini, ia justru mengisolasi. Kita duduk bersama, tetapi kita berbuka dengan "feed" kita sendiri.

Mungkin besok sore, cobalah eksperimen radikal ini: Matikan ponsel pada pukul 17:30. Lihat ke luar jendela. Perhatikan langit berubah warna. Dengarkan suara dari masjid terdekat. Rebut kembali otoritas atas rasa lapar Anda dari tangan algoritma. Percayalah, matahari akan tetap terbenam tanpa izin dari iOS atau Android.

SA
Siti Aminah

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Masyarakat. Bersemangat menganalisis tren terkini.