Pukul 17:45. Kegelisahan melanda. Bukan karena lapar, tapi karena baterai smartphone tinggal 5%. Kita telah menukar suara bedug dengan getaran notifikasi, dan dalam prosesnya, menyerahkan otonomi spiritual kita pada algoritma Silicon Valley.
Kematian bukan lagi akhir, melainkan awal dari siklus monetisasi baru. Ketika Lula Lahfah wafat, algoritma tidak menangis; ia justru membuka 'pasar saham' emosi di mana air mata dikonversi menjadi CPM.
Lupakan rukyatul hilal. Tanggal suci kini ditentukan oleh volume pencarian dan lelang iklan real-time. Apakah kita sedang beribadah, atau sekadar memberi makan mesin prediksi raksasa?