Setiap tahun, ritual ini berulang: pejabat melambaikan bendera, bus mengklakson, dan negara menepuk dadanya sendiri. Namun di balik spanduk mengkilap 'Mudik Gratis', apakah Jasa Raharja benar-benar memitigasi risiko kecelakaan, atau hanya menyelenggarakan kampanye humas berbiaya tinggi untuk menutupi kegagalan transportasi publik?
Lupakan formulir kertas lusuh. Tahun ini, 'tangan tak terlihat' yang memutuskan siapa yang makan dan siapa yang lapar adalah barisan kode Python yang dingin. Saya melihat cetak birunya, dan itu menakutkan.
Di balik narasi 'transportasi publik modern', jutaan komuter Jabodetabek sedang memainkan russian roulette dengan kewarasan mereka sendiri. Apakah kita sedang menuju efisiensi, atau sekadar memadatkan lebih banyak manusia ke dalam kaleng sarden demi grafik statistik?