Setiap tahun kita menonton drama yang sama. Teleskop canggih diarahkan ke ufuk, hitungan astronomi sudah presisi hingga detik, namun keputusan akhirnya tetap menunggu ketukan palu birokrat di Jakarta. Apakah ini murni ketaatan syariat, atau sekadar validasi kuasa negara atas waktu ibadah kita?
Di era di mana AI bisa memprediksi cuaca tiga bulan ke depan, mengapa negara masih menghabiskan miliaran rupiah dan waktu prime-time televisi hanya untuk melihat langit? Sebuah tinjauan skeptis terhadap ritual tahunan yang menolak punah.