Jarum jam menunjuk angka sebelas malam ketika jutaan siswa mencari kepastian nasib pada sebuah portal simulasi, tanpa menyadari bahwa sistem yang menjanjikan kesetaraan ini justru memutar roda raksasa kapitalisme pendidikan.
Pukul dua pagi, kopi sachet ketiga, dan monitor yang berpijar kejam. Bagi ribuan remaja, simulasi TKA bukan sekadar latihan soal, melainkan ritual inisiasi brutal menuju gerbang kedewasaan yang menyempit.
Ribuan siswa merayakan status 'eligible' mereka minggu ini. Namun di balik euforia itu, tersimpan sistem yang dirancang bukan untuk keadilan, melainkan efisiensi birokrasi yang mengorbankan individu. Apakah kita sedang menseleksi bibit unggul, atau hanya mengisi kursi kosong?