Masyarakat

Simulasi TKA: Di Balik Layar 'Squid Game' Akademik Indonesia

Pukul dua pagi, kopi sachet ketiga, dan monitor yang berpijar kejam. Bagi ribuan remaja, simulasi TKA bukan sekadar latihan soal, melainkan ritual inisiasi brutal menuju gerbang kedewasaan yang menyempit.

SA
Siti Aminah
6 Februari 2026 pukul 02.013 menit baca
Simulasi TKA: Di Balik Layar 'Squid Game' Akademik Indonesia

Mari kita mulai dengan sebuah pemandangan yang mungkin terlalu akrab bagi siapa saja yang memiliki remaja di rumahnya (atau bagi Anda yang pernah menjadi remaja ambisius). Sebut saja namanya Dika. Dia duduk terpaku di depan laptop, matanya merah, jarinya gemetar di atas mouse. Di layar, hitungan mundur digital berwarna merah terus berdetak: 00:59, 00:58...

Dika tidak sedang menjinakkan bom dalam video game. Dia sedang mengerjakan soal penalaran umum dalam sebuah simulasi Tes Kompetensi Akademik (TKA) nasional. Jika dia gagal di sini—menurut narasi yang terus disuntikkan oleh orang tua, guru, dan iklan bimbel—dia gagal dalam hidup.

Dramatis? Mungkin. Tapi begitulah realitas psikologis yang kita bangun.

"Ini bukan lagi tentang siapa yang paling pintar. Ini tentang siapa yang paling tahan banting dipukuli oleh soal-soal yang dirancang untuk menjatuhkan mental, berulang kali, setiap akhir pekan." — Seorang Guru Bimbel di Jakarta Selatan.

Simulasi TKA telah bermetamorfosis. Dulu, ia hanya alat ukur sederhana. Sekarang? Ia adalah industri raksasa yang memonetisasi kecemasan. Setiap 'Try Out' akbar yang diikuti ribuan peserta serentak adalah arena gladiator modern. Bedanya, tidak ada darah yang tumpah, hanya harga diri yang terkikis perlahan ketika skor keluar dan peringkat nasional dipampang.

Industrialisasi Rasa Takut

Kita perlu bicara jujur tentang apa yang sebenarnya diuji di sini. Apakah benar kemampuan kognitif? Atau daya tahan terhadap stres buatan?

Platform ed-tech berlomba-lomba menawarkan simulasi dengan tingkat kesulitan yang seringkali di atas standar ujian asli. Tujuannya mulia di atas kertas: "melatih mental". Namun, efek sampingnya jarang dibahas: learned helplessness. Ketidakberdayaan yang dipelajari. Ketika seorang siswa terus-menerus melihat skor merah meski sudah belajar 12 jam sehari, kita tidak sedang melatih otak mereka. Kita sedang melatih mereka untuk merasa tidak cukup.

Dan coba tebak siapa yang diuntungkan? Bisnis bimbingan belajar yang menjual 'solusi' instan, trik cepat, dan rumus rahasia.

👀 Apakah Skor Simulasi Menjamin Sukses di Ujian Asli?

Spoiler: Tidak Selalu.

Data lapangan menunjukkan anomali menarik. Banyak siswa dengan skor simulasi 'dewa' justru tumbang di hari-H karena burnout atau kelelahan mental sebelum bertanding. Sebaliknya, mereka yang skor simulasinya moderat namun memiliki manajemen stres yang baik (dan tidur cukup), seringkali menyalip di tikungan terakhir. Simulasi adalah alat diagnostik, bukan bola kristal peramal nasib.

Mitos Mobilitas Sosial

Ada lapisan yang lebih gelap jika kita mau mengupasnya. Simulasi TKA juga menelanjangi ketimpangan akses. Dika, yang saya ceritakan di awal, memiliki laptop stabil dan wifi kencang. Bagaimana dengan siswa di pelosok yang harus menumpang sinyal di kantor desa untuk sekadar loading soal gambar geometri?

Sistem ini, secara tidak sengaja (atau mungkin sengaja?), menyaring mereka yang memiliki infrastruktur pendukung terbaik, bukan sekadar mereka yang memiliki potensi intelektual murni. Kita menyebutnya meritokrasi, padahal seringkali itu hanyalah aristokrasi yang menyamar dalam bentuk lembar jawaban komputer.

Pada akhirnya, apa yang tersisa setelah musim ujian berlalu? Generasi yang hafal rumus cepat integral tapi gagap saat ditanya apa mimpi mereka yang sebenarnya. Kita menguji batas daya tahan mereka, benar. Tapi kita lupa bertanya: apakah dinding yang mereka coba runtuhkan itu benar-benar pintu menuju kebahagiaan, atau sekadar tembok penjara baru bernama 'prestise sosial'?

SA
Siti Aminah

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Masyarakat. Bersemangat menganalisis tren terkini.