Ketika tinta di kontrak belum kering dan notifikasi media sosial meledak, satu pertanyaan mengganjal: Apakah Ajax membeli kiper tangguh, atau mereka membeli algoritma?
Bayangkan seorang pemandu bakat tua dengan rokok di bibir, berdiri di pinggir lapangan becek di Norwegia. Itu masa lalu. Hari ini, nasib pemain seperti Shayne Pattynama ditentukan oleh baris kode di laptop berpendingin udara, jauh dari bau rumput.