Olahraga

Maarten Paes ke Ajax: Transfer Jenius atau Sekadar 'Clickbait' Korporat?

Ketika tinta di kontrak belum kering dan notifikasi media sosial meledak, satu pertanyaan mengganjal: Apakah Ajax membeli kiper tangguh, atau mereka membeli algoritma?

TR
Taufik Rahman
28 Januari 2026 pukul 05.013 menit baca
Maarten Paes ke Ajax: Transfer Jenius atau Sekadar 'Clickbait' Korporat?

Mari kita hentikan parade euforia ini sejenak. Ya, Fabrizio Romano sudah bersabda. Ya, bendera Merah Putih kini membanjiri kolom komentar akun Instagram resmi Ajax Amsterdam. Maarten Paes, sang pahlawan mistar gawang FC Dallas, pulang kampung ke Belanda dengan kontrak hingga 2029. Sebuah dongeng yang indah, bukan? (Sangat indah, sampai-sampai terasa sedikit... terlalu sempurna).

Sebagai seseorang yang dibayar untuk tidak menelan narasi mentah-mentah, saya melihat transfer ini dengan satu alis terangkat. Bukan karena Paes tidak berbakat—refleksnya di MLS memang 'gila'—tapi karena Ajax bukanlah panti asuhan bagi pemain Belanda yang merantau. Ini adalah klub yang dibangun di atas efisiensi brutal dan akademi kelas dunia. Jadi, di mana logikanya?

Antara Penyelamatan dan Pemasaran

Kita harus jujur secara brutal di sini. Ajax sedang tidak baik-baik saja secara finansial beberapa tahun terakhir. Membawa pulang kiper berusia 27 tahun dengan biaya transfer yang dilaporkan hanya berkisar €1 juta (sekitar Rp 17 miliar) adalah definisi dari panic buying yang cerdas, atau justru langkah jenius akuntansi?

Paes bukanlah 'wonderkid' yang akan dijual seharga €50 juta dalam dua tahun. Dia juga bukan legenda veteran seperti Remko Pasveer (42 tahun) yang membawa aura kepemimpinan. Dia berada di tengah-tengah. The forgotten middle child. Tapi dia membawa sesuatu yang tidak dimiliki kiper lain di Eredivisie: Pasukan Garuda.

"Di sepak bola modern, kiper yang membawa 5 juta pengikut di media sosial kadang lebih berharga bagi CFO klub daripada kiper yang menepis 5 penalti dalam semusim."

Apakah sinis jika saya curiga bahwa lonjakan engagement media sosial Ajax—yang pasti terjadi detik ini—adalah bagian dari KPI (Key Performance Indicator) transfer ini? Mungkin.

Bedah Data: Paes vs Realita Eredivisie

Mari kita singkirkan emosi dan bicara angka. MLS adalah liga yang menghibur, penuh dengan pertahanan longgar yang memaksa kiper bekerja lembur. Eredivisie? Lebih taktis, lebih sedikit tembakan, tapi membutuhkan distribusi bola yang presisi. Apakah 'Shot-Stopper' Amerika ini cocok dengan filosofi 'Total Football'?

Metrik (Per 90 Menit)Maarten Paes (FC Dallas '25)Rata-rata Kiper Ajax
Penyelamatan (Saves)4.2 (Sangat Sibuk)2.1 (Jarang Diserang)
Akurasi Umpan Panjang48%65%
Goals Prevented (xG)+5.3+1.2

Lihat perbedaannya? Di Dallas, Paes adalah pahlawan karena dia ditembaki terus-menerus. Di Ajax, dia akan berdiri diam selama 80 menit dan diharapkan bisa mengirim umpan laser sejauh 40 meter di menit ke-89. Ini bukan sekadar ganti seragam; ini ganti profesi.

Sisi Gelap Loyalitas

Apa yang terjadi pada FC Dallas? Mereka baru saja kehilangan aset terbesar mereka dengan harga diskon. Loyalitas di sepak bola adalah mitos yang kita ceritakan pada anak-anak sebelum tidur. Paes pergi karena panggilan Eropa (dan mungkin Liga Champions) terlalu seksi untuk ditolak. Dallas melepasnya karena kontrak hampir habis.

Bagi fans Timnas Indonesia, ini kemenangan mutlak. Kiper utama mereka bermain di level tertinggi Eropa. Tapi bagi Ajax, ini perjudian. Jika Paes gagal beradaptasi dengan permainan kaki (footwork) ala Ajax yang menuntut, sorakan netizen akan berubah menjadi tekanan yang mencekik.

Jadi, apakah ini transfer jenius? Secara finansial, ya (murah dan viral). Secara teknis? Saya masih menyimpan keraguan saya di laci meja ini. Waktu—dan blunder pertama di Johan Cruijff ArenA—yang akan menjawab.

TR
Taufik Rahman

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Olahraga. Bersemangat menganalisis tren terkini.