Sirene meraung lagi. Kita sebut itu musibah, tapi benarkah? Atau ini hanya konsekuensi logis dari tata kota yang kita biarkan semrawut atas nama 'estetika' dan nostalgia?
Notifikasi berbunyi. Jantung berdegup. Di balik grafik curah hujan yang merah membara, terdapat mesin uang yang bekerja dalam diam. Peringatan dini bukan sekadar soal keselamatan; ini adalah komoditas.
Di balik narasi 'transportasi publik modern', jutaan komuter Jabodetabek sedang memainkan russian roulette dengan kewarasan mereka sendiri. Apakah kita sedang menuju efisiensi, atau sekadar memadatkan lebih banyak manusia ke dalam kaleng sarden demi grafik statistik?