People

Jennie Kim: Glitch dalam Matriks K-Pop atau Produk Akhir Kapitalisme?

Lupakan narasi 'member girl group yang manis'. Jennie bukan lagi sekadar idola; dia adalah studi kasus hidup tentang bagaimana 'ketidaksempurnaan' kini dijual dengan harga premium, dan mengapa perpisahannya dengan YG hanyalah awal dari permainan catur yang sesungguhnya.

JS
Jessica StarJournalist
January 15, 2026 at 05:01 PM3 min read
Jennie Kim: Glitch dalam Matriks K-Pop atau Produk Akhir Kapitalisme?

Jika Anda berpikir Jennie Kim hanyalah wajah cantik yang disetir oleh boneka-boneka jas berdasi di Seoul, Anda sudah tertinggal dua babak. Di koridor industri hiburan—tempat di mana kontrak ditandatangani dengan tinta darah dan NDA (Non-Disclosure Agreement)—apa yang terjadi pada Jennie bukan sekadar evolusi karier. Ini adalah pemberontakan yang terukur. Sangat terukur.

Mari kita bicara jujur. Selama bertahun-tahun di bawah YG Entertainment, Jennie adalah aset. Aset dengan valuasi tinggi, tentu saja, tapi tetap saja aset. Anda ingat fase "Lazy Jennie"? Video-video yang viral memperlihatkan dia tampak tidak bersemangat di panggung? Publik awam menyebutnya tidak profesional. Tapi bagi kami yang mengamati perputaran uang di balik layar, itu terlihat seperti... kelelahan sistemik. Atau mungkin, sabotase pasif-agresif?

"Dalam industri K-Pop, kesempurnaan adalah standar minimum. Tapi Jennie memecahkan kode itu: dia menyadari bahwa di era Gen Z, sedikit 'keretakan' pada citra justru membuat saham 'relatability'-nya melonjak."

Paradoks inilah yang menarik. Industri K-Pop dibangun di atas fondasi sinkronisasi militeristik. Senyum yang sama, tarian yang sama, jawaban wawancara yang telah disterilkan. Jennie, dengan sengaja atau tidak, menjadi antitesis dari itu. Dia adalah 'It Girl' yang kadang terlihat bosan. Dan tebak? Pasar menyukainya. Brand mewah seperti Chanel tidak membayar jutaan dolar untuk robot; mereka membayar untuk aura je ne sais quoi yang dimiliki Jennie.

Odd Atelier: Kudeta atau Ilusi Kebebasan?

Ketika dia mengumumkan pendirian label pribadinya, Odd Atelier (OA), narasi yang beredar adalah tentang "kebebasan artistik". (Terdengar romantis, bukan?). Tapi mari kita bedah strukturnya. Ini bukan tentang musik indie di garasi.

👀 Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar Odd Atelier?

Sumber internal membisikkan bahwa OA bukan hanya kendaraan untuk merilis lagu. Ini adalah manuver untuk menguasai kembali IP (Intellectual Property) atas citra dirinya sendiri. Di bawah agensi besar, idola seringkali tidak memiliki hak atas nama atau wajah mereka sendiri untuk merchandise tertentu. Dengan OA, Jennie mengubah posisinya dari 'karyawan' menjadi 'mitra'. Dia tidak lagi membagi kue dengan agensi untuk kesepakatan fashion globalnya; dia memiliki toko rotinya sekarang.

Namun, jangan naif. Keluar dari sistem pabrik idola bukan berarti lepas dari algoritma. Sekarang, algoritmanya hanya lebih canggih. Jika dulu dia harus terlihat sempurna, sekarang dia harus terlihat "autentik". Dan ironisnya, memproduksi autentisitas seringkali membutuhkan biaya produksi yang lebih mahal daripada memproduksi kesempurnaan plastik.

Lihat saja penampilannya di serial The Idol atau Mantra. Apakah itu ekspresi diri yang murni? Atau itu adalah kalkulasi data untuk menembus pasar Barat yang mendambakan sosok pop star yang lebih "edgy" dan tidak terlalu bersih? Jennie sedang memainkan permainan berbahaya: menyeimbangkan ekspektasi konservatif basis penggemar Korea dengan selera liberal pasar global.

Pada akhirnya, kita tidak sedang melihat seorang gadis yang sekadar bernyanyi. Kita sedang melihat sebuah konglomerasi berjalan. Pertanyaannya bukan lagi apakah dia bisa bernyanyi secara live (kita tahu dia bisa), tapi seberapa banyak dari "Jennie" yang kita lihat di Instagram adalah manusia, dan seberapa banyak yang merupakan hasil A/B testing tim pemasaran barunya? Jawabannya mungkin membuat Anda tidak nyaman.

JS
Jessica StarJournalist

Journalist specializing in People. Passionate about analyzing current trends.