Deporte

Al Hilal: Saat Hegemoni Eropa Runtuh di Bawah Tumpukan Petrodolar

Lupakan narasi 'liga pensiunan'. Al Hilal tidak sedang membangun panti jompo untuk bintang tua; mereka sedang merakit mesin perang yang membuat direktur olahraga Eropa berkeringat dingin. Apakah ini gelembung yang akan pecah, atau tatanan dunia baru?

RT
Rafael TorresPeriodista
16 de febrero de 2026, 20:013 min de lectura
Al Hilal: Saat Hegemoni Eropa Runtuh di Bawah Tumpukan Petrodolar

Eropa tertawa ketika Cristiano Ronaldo mendarat di Riyadh. 'Ah, hanya satu lagi liga gajah untuk masa pensiun,' gumam para purist di pub-pub London dan bar tapas Madrid. Mereka membandingkannya dengan Liga Super China atau MLS. Sebuah kesalahan fatal. Jika Anda ingin melihat di mana sebenarnya poros kekuatan sepak bola sedang digeser paksa, jangan lihat Al Nassr. Lihatlah Al Hilal.

Klub berjuluk Al-Za'eem (Sang Bos) ini bukan sekadar mainan baru Pangeran. Ini adalah institusi yang didukung oleh dana kekayaan negara (PIF) dengan strategi yang jauh lebih menakutkan daripada sekadar mengumpulkan pengikut Instagram: mereka membeli masa prima pemain.

"Kita tidak sedang melihat 'pensiun dini'. Kita sedang melihat redistribusi aset sepak bola global yang paling agresif dalam sejarah modern."

Bukan Sekadar Panti Jompo

Mari kita bersikap skeptis sejenak terhadap narasi media Barat yang meremehkan. Ketika Al Hilal merekrut Ruben Neves (26 tahun) dan Sergej Milinković-Savić (28 tahun), lonceng bahaya seharusnya berbunyi di markas UEFA. Ini bukan pemain yang kakinya sudah habis. Ini adalah kapten Wolverhampton dan gelandang terbaik Serie A yang, dalam kondisi normal, akan menjadi rebutan Barcelona atau Manchester United.

Apa yang terjadi di sini bukan sekadar inflasi gaji. Ini adalah pembajakan talenta di usia emas. Eropa kehilangan monopoli atas karier elit pemain. (Dan jujur saja, uang pajak nol persen di Saudi mungkin terdengar lebih manis daripada prestise Liga Champions bagi sebagian orang).

PemainUsia Saat DirekrutStatus SebelumnyaDampak Strategis
Neymar Jr31Megabintang PSGBranding Global (Meski rentan cedera)
Rúben Neves26Kapten Wolves (EPL)Pengendali Lini Tengah (Prime Age)
Aleksandar Mitrović28Top Scorer FulhamJaminan Gol & Fisik
Bono32Kiper Sevilla (Juara UEL)Keamanan Gawang Kelas Dunia

Paradoks Neymar dan Realitas Lapangan

Ironisnya, perekrutan terbesar mereka, Neymar, justru menjadi studi kasus paling menarik bagi seorang analis skeptis. Al Hilal menghabiskan dana astronomis untuk pemain yang menghabiskan sebagian besar musim debutnya di ruang perawatan. Bencana? Di atas kertas, ya. Di lapangan? Sama sekali tidak.

Tim asuhan Jorge Jesus ini justru mencatatkan rekor kemenangan beruntun dunia tanpa Neymar. Ini membuktikan satu hal mengerikan bagi rival-rival mereka: Kedalaman skuad mereka sudah melampaui ketergantungan pada satu individu. Malcom, Mitrovic, dan bintang lokal seperti Salem Al-Dawsari membentuk unit yang kohesif. Mereka tidak lagi membutuhkan 'dewa penyelamat'; mereka telah membeli sistem yang berfungsi.

Apakah Ini Berkelanjutan?

Namun, jangan tertipu oleh kilap trofi. Masih ada pertanyaan besar yang menggantung di langit Riyadh. Siapa yang menonton? Angka penonton televisi global memang naik, tapi stadion seringkali terlihat kosong saat Al Hilal tidak bermain melawan tim 'Big 4'. Infrastruktur akar rumput Saudi sedang dipacu, tapi apakah itu bisa mengejar instannya pembelian bintang?

Jika proyek Vision 2030 ini goyah, atau jika harga minyak anjlok drastis, kita mungkin melihat eksodus massal jilid dua. Tapi untuk saat ini, Al Hilal telah berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan Liga Super China: mereka membuat Eropa takut, bukan hanya tertawa.

RT
Rafael TorresPeriodista

Periodista especializado en Deporte. Apasionado por el análisis de las tendencias actuales.