Economía

Antam dan Ilusi Nasionalisme: Siapa Sebenarnya yang Kenyang?

Di atas kertas, Antam adalah permata mahkota BUMN. Namun, ketika kita mengupas lapisan emasnya, baunya tidak selalu harum. Apakah ini benteng kedaulatan sumber daya kita, atau sekadar kasir mewah bagi pemain di balik layar?

AR
Alejandro RuizPeriodista
31 de enero de 2026, 05:013 min de lectura
Antam dan Ilusi Nasionalisme: Siapa Sebenarnya yang Kenyang?

Mari kita bicara jujur sebentar. Narasi resmi selalu berbunyi seperti ini: PT Aneka Tambang Tbk (Antam) adalah garda terdepan kedaulatan mineral Indonesia. Pahlawan hilirisasi. Simbol kemandirian ekonomi. Indah, bukan? Sangat patriotik.

Tapi bagi siapa pun yang mau sedikit saja repot membedah neraca keuangan dan rentetan skandal yang muncul (seperti jamur di musim hujan), narasi itu mulai terdengar seperti dongeng pengantar tidur.

Lubang Hitam 1,1 Ton Emas

Kita tidak bisa membahas Antam tanpa menyentuh gajah di pelupuk mata: kasus "Crazy Rich" Surabaya. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan pelat merah, yang diawasi berlapis-lapis oleh auditor dan birokrat, bisa "kebobolan" emas seberat 1,1 ton? Kita tidak bicara tentang kehilangan dompet di pasar. Kita bicara tentang emas batangan yang nilainya sanggup membiayai satu kabupaten kecil.

"Kehilangan 1,1 ton emas bukan sekadar 'kelalaian administrasi'. Itu adalah gejala dari penyakit sistemik di mana kontrol internal bertekuk lutut di hadapan koneksi eksternal."

Jika Antam benar-benar melayani negara, bagaimana mungkin mekanisme check and balance mereka begitu rapuh? Atau—dan ini pertanyaan yang tidak nyaman—apakah kerapuhan itu memang fitur, bukan bug? Kasus ini membuka tabir bahwa di balik logo BUMN yang mentereng, ada celah-celah gelap yang memungkinkan aset negara merembes keluar ke kantong pribadi.

Hilirisasi: Siapa yang Menjadi Raja?

Lalu ada nikel. Ah, nikel. "Minyak baru," kata mereka. Antam diposisikan sebagai raksasa yang duduk di atas gunung harta karun nikel dunia. Tapi mari kita lihat rantai makanannya.

Antam memang menambang tanahnya. Mereka berkeringat, mengeruk bumi, dan menghadapi risiko lingkungan. Tapi siapa yang menikmati nilai tambahnya? Sebagian besar bijih nikel itu lari ke smelter-smelter yang dikuasai oleh usaha patungan (joint ventures) dengan raksasa asing atau konglomerat lokal yang memiliki akses "khusus".

Apakah Antam menjadi pemain utama baterai EV dunia? Belum. Saat ini, mereka lebih terlihat sebagai pemasok bahan baku yang patuh. Keuntungan terbesar dari lonjakan harga nikel dan produk turunannya seringkali tidak mengendap di kas Antam (yang artinya dividen untuk negara), melainkan di laporan keuangan mitra strategis mereka.

Sudut PandangNarasi PublikRealitas Lapangan
EmasInvestasi aman ("Safe Haven") bagi rakyat.Arena permainan hukum yang merugikan negara triliunan rupiah.
NikelIndonesia sebagai pusat baterai dunia.Antam sebagai pemasok tanah; nilai tambah dinikmati mitra strategis.
Kinerja SahamBlue chip kebanggaan investor ritel.Volatil, sering digerakkan oleh sentimen berita daripada fundamental murni.

Gurita yang Tak Terlihat

Jangan salah paham, dividen tetap mengalir ke negara. Pajak tetap dibayar. Tapi pertanyaannya adalah soal opportunity cost. Seberapa besar potensi yang hilang karena inefisiensi dan kesepakatan bawah meja?

Ketika harga komoditas melambung, seharusnya Antam mencetak uang lebih cepat daripada percetakan uang di Peruri. Namun, margin keuntungan seringkali tergerus oleh beban operasional yang membengkak dan proyek-proyek penugasan yang terkadang tidak masuk akal secara bisnis.

Jadi, apakah Antam melayani negara? Ya, secara teknis. Tapi apakah ia juga memuluskan jalan bagi elit bisnis untuk mencicipi kue kekayaan alam kita tanpa harus berkotor-kotor menggali tanah sendiri? Anda tidak perlu menjadi analis Wall Street untuk melihat polanya. Selama transparansi masih menjadi barang mahal di tubuh BUMN tambang ini, kecurigaan bahwa ia adalah "ATM" bagi segelintir orang tidak akan pernah benar-benar hilang.

AR
Alejandro RuizPeriodista

Periodista especializado en Economía. Apasionado por el análisis de las tendencias actuales.