Industri Ketakutan: Bagaimana Algoritma Menguangkan Bersin Anda
Setiap November, narasi itu kembali seperti jam kerja. Bukan virusnya yang bermutasi paling cepat, melainkan cara mesin pencari memonetisasi hipokondria kolektif kita.

Pernahkah Anda memperhatikan pola yang aneh? Tepat saat suhu turun satu derajat, notifikasi ponsel Anda mulai berteriak. "Varian Baru," "Rumah Sakit Di Ambang Batas," "Ancaman Tripledemic." Apakah sistem kekebalan tubuh manusia tiba-tiba runtuh secara global? Saya meragukannya. Apa yang sebenarnya runtuh adalah batasan etika dalam ekonomi perhatian.
Selamat datang di musim flu—atau sebagaimana Silicon Valley suka menyebutnya: Kuartal Keempat dengan Rekor Keterlibatan Pengguna (User Engagement).
Ketakutan adalah mata uang dengan inflasi tertinggi, namun nilainya tak pernah turun di pasar saham digital.
Mari kita bersikap jujur sejenak (sesuatu yang jarang dilakukan oleh umpan berita Anda). Flu itu nyata. Berbahaya bagi kelompok rentan? Tentu. Tapi skala histeria yang kita konsumsi setiap pagi tidak lagi berkorelasi dengan kurva epidemiologi; itu berkorelasi dengan algoritma rekomendasi.
Mekanisme 'Doomscrolling' Sanitasi
Bayangkan Anda mencari "gejala sakit tenggorokan" di Google. Tindakan yang tidak bersalah. Namun bagi pelacak data, Anda baru saja menandai diri Anda sebagai target utama. Dalam hitungan jam, 'Discover' feed Anda tidak lagi menampilkan resep sup ayam, melainkan analisis mengerikan tentang kegagalan sistem pernapasan.
Mengapa? Karena konten yang memicu kecemasan memiliki rasio klik-tayang (CTR) 400% lebih tinggi daripada konten yang menenangkan. Platform media sosial tidak peduli dengan kesehatan paru-paru Anda; mereka peduli pada durasi sesi Anda. Jika membuat Anda berpikir bahwa batuk ringan adalah awal dari kiamat medis membuat Anda tetap menatap layar selama 15 menit lebih lama, maka itulah yang akan disajikan.
👀 Mengapa Otak Kita Kalah Melawan Algoritma?
Ini adalah eksploitasi biologis murni. Manusia berevolusi dengan Bias Negativitas: kita diprogram untuk lebih memperhatikan ancaman (seperti singa di semak-semak) daripada peluang (pemandangan indah). Algoritma modern telah mempersenjatai insting bertahan hidup zaman batu ini. Setiap judul berita yang menakutkan memicu pelepasan kortisol, membuat kita waspada dan... terus menggulir layar untuk mencari 'jawaban' yang tidak pernah memuaskan.
Simbiosis Parasit: Media dan Farmasi
Siapa yang diuntungkan dari siklus panik ini? Ikuti uangnya. Di satu sisi, portal berita yang berjuang melawan penurunan pendapatan iklan membutuhkan lalu lintas tinggi. "Flu Musiman Biasa Saja" bukanlah judul yang menjual iklan. "Badai Sitokin Mengintai Anak Anda"? Itu emas murni.
Di sisi lain, perhatikan lonjakan iklan obat flu dan suplemen peningkat imun yang secara ajaib muncul di sela-sela artikel horor tersebut. Ini bukan konspirasi pria bertopeng di ruang gelap; ini hanyalah kapitalisme pengawasan yang bekerja dengan efisiensi brutal. Kecemasan Anda adalah corong penjualan yang sempurna.
Kita tidak sedang meremehkan penyakit. Kita sedang mempertanyakan volume pengeras suaranya. Ketika setiap bersin diperlakukan sebagai berita terkini (Breaking News), kita kehilangan kemampuan untuk membedakan bahaya nyata dari kebisingan digital. Jadi, saran radikal untuk musim dingin ini: Cuci tangan Anda, dapatkan vaksin jika Anda mau, tapi demi kesehatan mental Anda, berhenti mendiagnosis diri sendiri melalui tab pencarian yang dirancang untuk membuat Anda sakit.


