Lazio dan Hantu xG: Saat Angka Menabrak Tembok Curva Nord
Di Stadion Olimpico, udara berbau suar dan ketakutan lama. Sementara analis data Formello terobsesi pada probabilitas gol, Derby della Capitale membuktikan satu hal: matematika runtuh saat emosi mengambil alih.

Bayangkan ini: Menit ke-88. Kaki-kaki sudah berat seperti beton. Bola melambung liar di dalam kotak penalti—bukan sebuah umpan cantik, melainkan hasil pantulan putus asa dari tulang kering bek lawan. Sudut tembaknya sempit, mungkin hanya terbuka 15 derajat. Kiper sudah menutup ruang.
Di laptop seorang analis yang duduk nyaman di tribun pers ber-AC, layar berkedip: 0.04 xG. Peluang empat persen. Secara statistik, bola itu seharusnya melayang ke barisan penonton atau membentur papan iklan.
Tapi ini Derby della Capitale. Dan ini Lazio.
Bola itu masuk. Jaring bergetar, dan separuh kota Roma meledak dalam kegilaan yang bisa didengar sampai ke Vatikan. Inilah paradoks sepak bola modern yang ingin kita bedah: ketegangan antara dinginnya Expected Goals (xG) dan panasnya jiwa Romawi yang tak terukur.
👀 Tunggu, apa itu 'xG' sebenarnya?
Secara sederhana: Expected Goals (xG) adalah nilai probabilitas (dari 0 hingga 1) bahwa sebuah tembakan akan menjadi gol. Nilai ini dihitung berdasarkan ribuan data historis: jarak ke gawang, sudut tembak, bagian tubuh yang digunakan, hingga tekanan dari bek lawan.
Jika xG adalah 0.50, artinya pemain rata-rata akan mencetak gol 5 kali dari 10 percobaan di posisi tersebut. Jika Lazio mencetak gol dari peluang 0.04 xG, itu bukan statistik—itu keajaiban (atau blunder fatal kiper).
Ketika Logika Mati di Tepi Tiber
Sepak bola modern, dengan segala arogansinya, mencoba mengukur segalanya. Mereka memasang GPS di punggung pemain, menghitung detak jantung, dan memetakan setiap inci lapangan dalam grid digital. Di Formello (markas latihan Lazio), tim pelatih Marco Baroni pasti menelan data ini setiap pagi bersama espresso mereka.
Namun, ada variabel yang tidak bisa dimasukkan ke dalam kode Python: Beban Sejarah.
Bagi Lazio, setiap pertandingan melawan AS Roma bukanlah sekadar perebutan tiga poin. Ini adalah perang sipil tanpa senjata. Ketika seorang pemain mengenakan jersi biru langit itu, xG tidak lagi memperhitungkan tekanan dari 70.000 manusia yang menjerit. Algoritma tidak tahu rasanya dicemooh oleh Curva Sud atau didewakan oleh Curva Nord.
Statistik sering kali menunjukkan Lazio "kalah" dalam metrik penguasaan bola atau kualitas peluang, namun keluar sebagai pemenang di papan skor. Kenapa? Karena xG mengasumsikan pemain adalah robot yang rasional.
"Komputer bisa memberitahu Anda ke mana bola kemungkinan besar akan jatuh, tapi ia tidak bisa mengukur seberapa besar keinginan seorang pemain untuk sampai ke sana lebih dulu daripada lawannya. Di Roma, keinginan itu bernilai lebih dari sekadar teknik."
Anomali Biancocelesti
Mari kita lihat lebih dalam. Lazio sering kali menjadi studi kasus "overperformance"—mencetak lebih banyak gol daripada yang diprediksi xG mereka. Kritikus (si Analis Skeptis) akan menyebut ini sebagai "keberuntungan yang tidak berkelanjutan". Cepat atau lambat, katanya, realitas akan menghajar mereka.
Tapi ada narasi lain di sini. Mungkin, hanya mungkin, model matematika itu cacat karena mereka dibangun di atas rata-rata global, bukan realitas spesifik Derby Roma.
Apakah algoritma memperhitungkan adrenalin yang membanjiri darah Mattia Zaccagni saat ia melihat celah di pertahanan Roma? Apakah ia menghitung faktor "Grinta" (kegigihan) yang membuat seorang bek memblokir tembakan dengan wajahnya? Tidak. Data melihat lintasan bola; fans melihat pengorbanan.
Jiwa yang Tak Terlacak
Kita hidup di era di mana kita terobsesi untuk "memecahkan" sepak bola, seolah-olah ini adalah persamaan matematika yang bisa diselesaikan. Namun, keindahan Lazio—dan sepak bola Italia pada umumnya—justru terletak pada ketidaksempurnaannya.
Jika sepak bola hanya soal siapa yang memiliki xG tertinggi, kita tidak perlu menonton 90 menit pertandingan. Cukup simulasikan di superkomputer, keluarkan hasilnya, dan pulang. Tapi kita tetap datang. Kita tetap menonton. Karena kita tahu, di momen-momen krusial, saat hujan turun deras di Olimpico dan kaki-kaki mulai lelah, jiwa sebuah tim bisa membelokkan probabilitas.
Jadi, bisakah algoritma menangkap jiwa Derby Roma? Jawabannya ada di mata seorang anak kecil di tribun yang menangis bahagia untuk sebuah gol yang, menurut komputer, "hampir mustahil" terjadi.


