Deporte

Liga Saudi: Halusinasi Mahal atau Kudeta Sepak Bola Abad Ini?

Lupakan narasi romantis tentang 'gairah sepak bola di Timur Tengah'. Ini adalah operasi akuisisi permusuhan terbesar dalam sejarah olahraga. Tapi apakah uang minyak benar-benar bisa membeli relevansi budaya?

RT
Rafael TorresPeriodista
21 de febrero de 2026, 20:053 min de lectura
Liga Saudi: Halusinasi Mahal atau Kudeta Sepak Bola Abad Ini?

Mari kita hentikan kepura-puraan ini sejenak. Ketika Cristiano Ronaldo mendarat di Riyadh, narasi resminya adalah tentang "tantangan baru". (Tentu saja, tantangan untuk menghitung nol di rekening bank adalah hal yang berat). Namun, di balik kilatan lampu strobo stadion dan presentasi pemain yang menyaingi pelantikan presiden, ada bau hangus dari uang yang dibakar dalam skala industri.

Saya mengadopsi posisi Skeptical Analyst di sini karena angka-angka yang disajikan Saudi Pro League (SPL) sering kali terasa seperti fiksi ilmiah daripada laporan keuangan yang sehat.

Disrupsi atau Delusi?

Kita diberitahu bahwa Arab Saudi ingin menjadi Top 5 League di dunia. Ambisi yang bagus. Namun, struktur liga ini bukanlah kompetisi organik; ini adalah proyek negara yang dipusatkan. Public Investment Fund (PIF) pada dasarnya memiliki empat klub terbesar (Al-Nassr, Al-Hilal, Al-Ittihad, Al-Ahli). Bayangkan jika Pemerintah Inggris memiliki Man City, Liverpool, Arsenal, dan Chelsea sekaligus, lalu memutuskan siapa yang mendapatkan pemain mana.

Ini bukan pasar bebas. Ini adalah monopoli yang disubsidi.

Metrik (Estimasi 2024)Premier League (Inggris)Saudi Pro League
Model BisnisHak Siar & KomersialSuntikan Dana Negara (PIF)
Rata-rata Penonton~38.000~8.000 (Sangat timpang)
Motivasi UtamaProfitabilitasSoft Power & Vision 2030

Tabel di atas melukiskan gambaran yang suram bagi siapa saja yang percaya pada keberlanjutan. Anda bisa membeli Neymar, Benzema, dan Mahrez. Tapi Anda tidak bisa membeli atmosfer Anfield atau kebisingan Signal Iduna Park dalam semalam. Di luar pertandingan Big 4, stadion-stadion di Saudi sering kali lebih sunyi daripada perpustakaan saat jam istirahat. Angka penonton resmi sering kali 'dipoles', tetapi mata tidak bisa berbohong saat melihat kursi kosong di siaran televisi.

Liga Pensiunan atau Ancaman Nyata?

Eropa gemetar, atau setidaknya berpura-pura demikian untuk menekan UEFA agar melonggarkan aturan. Narasi bahwa Saudi adalah "Liga Super China 2.0" (ingat ketika Oscar dan Hulk pindah ke Timur?) sering didengungkan. Perbedaannya? China kehabisan uang karena krisis real estate. Arab Saudi duduk di atas keran minyak yang tak akan kering dalam waktu dekat.

Namun, perhatikan profil pemain yang datang. Sebagian besar berusia di atas 30 tahun, mencari kontrak besar terakhir. Gabri Veiga adalah pengecualian, bukan aturan. Selama SPL belum bisa menarik talenta terbaik di puncak usia emas mereka (24-27 tahun) secara konsisten, mereka hanyalah museum lilin yang sangat mahal.

"Sepak bola bukan hanya tentang membeli pemain. Ini tentang menciptakan sejarah. Anda tidak bisa membeli sejarah Liga Champions dengan uang minyak, tidak peduli berapa miliar yang Anda habiskan." — Aleksander Čeferin, Presiden UEFA (parafrase dari berbagai wawancara tentang ancaman non-Eropa).

Kutipan itu terdengar arogan, khas Eropa-sentris, tapi apakah salah? Sampai saat ini, hak siar internasional SPL masih sulit dijual dengan harga premium. Mengapa? Karena orang menonton liga untuk narasi, bukan sekadar kumpulan bintang all-star yang bermain setengah hati di suhu 40 derajat Celcius.

Geopolitik di Lapangan Hijau

Jadi, apa tujuan sebenarnya? Sportswashing? Mungkin. Tapi ini lebih tentang diversifikasi ekonomi pasca-minyak. Sepak bola adalah pintu masuk pariwisata dan investasi asing. Mereka tidak butuh liga ini untung tahun depan, atau bahkan dekade ini.

Pertanyaan yang jarang diajukan adalah: Apa dampaknya pada ekosistem lokal? Pemain muda Saudi kini terpinggirkan di liga mereka sendiri. Tim nasional mereka, yang mengejutkan Argentina di Piala Dunia lalu, berisiko kehilangan ketajaman jika talenta lokal hanya menjadi penonton bagi bintang impor yang bergaji selangit.

Proyek ini mengguncang peta global bukan karena kualitas sepak bolanya, melainkan karena inflasi gila-gilaan yang disebabkannya. Gaji pemain meroket di seluruh dunia karena "efek Saudi". Klub Eropa kini harus membayar lebih untuk mempertahankan pemain biasa-biasa saja.

Apakah ini masa depan sepak bola? Jika ya, masa depan itu terlihat sangat mahal, sedikit artifisial, dan sangat bergantung pada suasana hati seorang Putra Mahkota.

RT
Rafael TorresPeriodista

Periodista especializado en Deporte. Apasionado por el análisis de las tendencias actuales.