LPDP: Investasi Bangsa atau Subsidi Liburan Elit? Sebuah Audit Moral
Dana Abadi Pendidikan tembus ratusan triliun. LinkedIn penuh dengan lencana 'Awardee'. Namun, saat negara butuh inovasi nyata, ke mana perginya para otak brilian ini? Kita bedah angkanya tanpa basa-basi.

Mari kita jujur sejenak. Buka LinkedIn Anda, gulir ke bawah, dan hitung berapa banyak lencana emas bertuliskan "LPDP Awardee" yang lewat di beranda. Banyak? Tentu saja. Gelar ini telah menjadi mata uang sosial baru, sebuah validasi intelektual yang setara dengan centang biru di Instagram bagi kaum akademisi.
Tapi sebagai pembayar pajak—ya, uang Anda yang membiayai tiket pesawat mereka ke London dan New York—kita berhak mengajukan pertanyaan tidak nyaman: Apakah kita sedang membiayai lokomotif perubahan, atau sekadar mensponsori gap year mewah bagi kelas menengah yang bosan dengan pekerjaan korporat mereka?
⚡ The Essentials: Audit Kilat
Sebelum kita terseret arus argumen emosional, mari kita lihat apa yang dipertaruhkan di sini. Ini bukan uang receh.
| Metrik | Status Quo | Realitas Pahit |
|---|---|---|
| Total Dana Abadi | ± Rp 139 Triliun (dan terus naik) | Angka raksasa dengan Opportunity Cost tinggi. |
| Kewajiban Pulang | Rumus 2n+1 (Wajib mengabdi di Indo) | Seringkali diakali dengan alasan "belum ada lowongan yang pas". |
| Output Inovasi | Target Global Innovation Index naik | Peringkat Indonesia masih stagnan di papan tengah. |
Mitos "Pulang Membangun Bangsa"
Narasi romantisnya selalu sama: Pergi untuk belajar, pulang untuk membangun. Indah, bukan? (Hampir seperti plot film Hollywood). Namun, data lapangan seringkali lebih sinis. Masalahnya bukan hanya pada mereka yang enggan pulang—kelompok yang sering kita sebut "pengkhianat" di kolom komentar media sosial—tapi pada apa yang terjadi setelah mereka mendarat di Soekarno-Hatta.
Kita mengirim seorang insinyur nuklir ke MIT, membiayainya miliaran rupiah, lalu saat dia kembali, lapangan kerja yang tersedia hanyalah posisi administratif di sebuah BUMN yang birokrasinya lebih rumit dari rumus fisika kuantum. Ini bukan Brain Drain, ini Brain Waste. Limbah otak.
"Mencetak ribuan Master dan Doktor tanpa menyiapkan ekosistem industri yang mampu menyerap keahlian mereka sama saja dengan membeli mobil Formula 1 untuk dikendarai di jalanan macet Jakarta. Keren dilihat, tapi fungsinya mati."
Eksklusivitas yang Menipu
Ada bau elitisme yang menyengat di sini. Siapa yang paling siap mendapatkan beasiswa ini? Mereka yang punya akses les TOEFL jutaan rupiah, mereka yang punya koneksi untuk surat rekomendasi, dan mereka yang punya waktu luang untuk menulis esai puitis tentang "kontribusi".
Apakah LPDP benar-benar alat mobilitas sosial bagi anak petani di pelosok, atau hanya subsidi silang bagi anak-anak Jakarta Selatan untuk mempercantik CV mereka sebelum melamar ke perusahaan multinasional? Jika output maksimal dari seorang alumni universitas Ivy League yang dibiayai negara hanyalah menjadi influencer edukasi yang menjual e-book "Cara Lolos Beasiswa", maka kita punya masalah struktural yang serius.
Menagih Dividen Sosial
Kita tidak butuh lagi sekadar angka lulusan. "20.000 alumni" hanyalah statistik kosong jika dampaknya tidak terasa di PDB, indeks korupsi, atau kualitas layanan publik. Negara tidak berinvestasi pada individu; negara berinvestasi pada efek bola salju yang seharusnya mereka ciptakan.
Jadi, bagi para pemegang status Awardee: lencana itu berat. Itu bukan tiket VIP menuju kesuksesan pribadi. Itu adalah hutang. Dan rakyat sedang menunggu pelunasannya, bukan dalam bentuk postingan Instagram yang estetik, tapi dalam bentuk solusi nyata bagi kekacauan yang kita hadapi sehari-hari.


