Sociedad

Simulasi TKA: Bisnis Ketakutan di Balik Fantasi 'Abdi Negara'

Jutaan pelamar, ribuan 'try-out' berbayar, dan satu obsesi: lolos algoritma BUMN. Apakah ini meritokrasi, atau sekadar industrialisasi kepanikan massal?

MG
María GarcíaPeriodista
3 de febrero de 2026, 02:053 min de lectura
Simulasi TKA: Bisnis Ketakutan di Balik Fantasi 'Abdi Negara'

Ada aroma kopi basi dan keputusasaan yang menguar dari kamar kos-kosan di seluruh Indonesia setiap kali musim rekrutmen BUMN atau CPNS dibuka. Laptop menyala 24 jam, menampilkan pola gambar abstrak, deretan angka deret aritmatika, dan sinonim kata yang bahkan tidak pernah diucapkan oleh penyair paling senja sekalipun. Selamat datang di era Simulasi TKA (Tes Kemampuan Akademik).

Sebagai analis yang gemar membedah apa yang 'dijual' kepada publik versus apa yang sebenarnya terjadi, saya melihat fenomena ini bukan lagi sebagai tahap seleksi. Ini adalah ritual penyembahan berhala baru bernama Algoritma.

Narasi resminya selalu terdengar mulia: mencari talenta terbaik, tercerdas, dan paling adaptif. Tapi mari kita jujur sejenak (sesuatu yang jarang dilakukan birokrasi), apakah kemampuan memutar rotasi kubus dalam tiga dimensi di layar komputer benar-benar memprediksi seberapa baik seseorang menangani krisis rantai pasok di pelabuhan?

"Sistem ini tidak dirancang untuk menemukan pemimpin masa depan. Sistem ini dirancang untuk menyaring jutaan pelamar menjadi angka yang bisa dikelola server. Kita tidak sedang menguji kompetensi, kita sedang menguji ketahanan jari dan dompet."

Industrialisasi Rasa Takut

Di sinilah letak ironinya. Simulasi TKA telah bermutasi menjadi industri jutaan dolar. Platform EdTech berlomba-lomba menjual paket "Premium", "Platinum", hingga "VIP Guarantee". Mereka tidak menjual ilmu. Mereka menjual obat penenang bagi kecemasan pelamar.

Anda membayar bukan untuk menjadi lebih pintar, tapi untuk menghafal pola. Ini adalah gaming the system dalam bentuknya yang paling murni. Jika Anda punya uang lebih untuk membeli 50 paket simulasi, peluang Anda lolos drastis meningkat dibandingkan si jenius miskin yang hanya mengandalkan logika bawaan. Jadi, di mana letak meritokrasinya?

Narasi IdealRealitas Lapangan
Mengukur IQ dan potensi kognitif murni.Mengukur kecepatan menghafal pola soal tahun lalu.
Menyaring kandidat yang siap kerja.Menyaring kandidat yang siap stres di depan layar.
Gratis dan terbuka untuk semua.Pay-to-win (semakin banyak simulasi berbayar, semakin mahir).

Gerbang atau Tembok?

Kita sering mendengar keluhan dari HRD perusahaan pelat merah tentang fresh graduate yang tidak tahan banting atau kurang inisiatif. Mungkinkah—hanya mungkin—karena saringan di pintu depan (TKA) memilih mereka yang patuh pada aturan baku dan jago mengerjakan tugas repetitif, alih-alih mereka yang berpikir kreatif?

Simulasi TKA telah menjadi tembok api. Bagi mereka yang tidak memiliki akses internet stabil atau dana untuk berlangganan try-out mingguan, pintu itu tertutup rapat. Algoritma tidak peduli seberapa keras Anda berjuang di kehidupan nyata; ia hanya peduli apakah Anda memilih opsi 'B' pada soal deret angka dalam waktu kurang dari 40 detik.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti berpura-pura bahwa ini adalah ujian kecerdasan. Ini adalah ujian ketaatan. Dan dalam ekonomi yang semakin tidak pasti, ketaatan adalah komoditas yang paling dicari, sekaligus paling menyedihkan.

MG
María GarcíaPeriodista

Periodista especializado en Sociedad. Apasionado por el análisis de las tendencias actuales.