Sociedad

Simulasi TKA: Jebakan Algoritma atau Cermin Kecerdasan Palsu?

Ribuan peserta login dengan harapan setinggi langit, hanya untuk dihancurkan oleh penghitung waktu mundur yang tidak manusiawi. Kita perlu bicara jujur: apakah skor tinggi di layar itu bukti jenius, atau sekadar tanda Anda pandai menari dengan robot?

MG
María GarcíaPeriodista
22 de enero de 2026, 02:013 min de lectura
Simulasi TKA: Jebakan Algoritma atau Cermin Kecerdasan Palsu?

Ada sebuah ritual modern yang menyedihkan namun agung. Ratusan ribu anak muda Indonesia duduk mematung di depan laptop, mata mereka terpaku pada bilah loading, jantung berdegup seirama dengan kedipan kursor. Mereka sedang menghadapi "Dewa" baru penentu nasib: Simulasi TKA (Tes Kemampuan Akademik).

Narasi resminya selalu rapi dan wangi: digitalisasi rekrutmen—terutama di sektor BUMN dan korporasi raksasa—adalah tentang efisiensi, transparansi, dan meritokrasi. Omong kosong. Sebagai seseorang yang telah membedah cukup banyak data rekrutmen, saya mencium bau amis di balik janji manis teknologi ini.

Apakah kita sedang mengukur potensi intelektual, atau kita hanya sedang menguji siapa yang memiliki koneksi internet 100 Mbps dan refleks jari seorang atlet esports?

"Kita telah mengganti penilaian manusia yang bias dengan penilaian mesin yang buta. Hasilnya? Kita tidak merekrut pemikir, kita merekrut pengeklik tercepat."

Mitos "Skor Murni"

Mari kita bongkar ilusi objektivitas ini. Ketika Anda mengerjakan simulasi TKA, Anda tidak hanya melawan soal silogisme atau deret angka. Anda melawan antarmuka (UI). Jika server penyelenggara 'batuk' (kejadian yang terlalu sering terjadi untuk dianggap kebetulan), skor logika Anda hancur. Apakah itu berarti Anda bodoh? Tidak. Itu berarti infrastruktur mereka yang bodoh.

Ada bias mengerikan yang jarang dibicarakan: Literasi Digital vs. Kapasitas Kognitif. Seorang kandidat jenius dari daerah dengan akses teknologi terbatas akan terlihat seperti orang yang lamban dibandingkan kandidat medioker yang terbiasa melakukan speed-run pada aplikasi ujian online. Algoritma tidak peduli apakah Anda sedang berpikir mendalam atau sekadar panik mencari tombol 'Next'.

Realitas di Balik Angka

Kita perlu melihat tabel kebenaran yang tidak nyaman ini. Pergeseran dari kertas ke layar bukan sekadar perubahan medium, melainkan perubahan fundamental pada apa yang sebenarnya dinilai.

Apa yang HRD Pikir Mereka UkurApa yang Sebenarnya Diukur Algoritma
Logika Verbal & AnalogiKecepatan membaca diagonal (skimming)
Kemampuan NumerikHafalan pola soal tahun lalu (bukan pemecahan masalah)
Ketahanan Terhadap TekananKestabilan koneksi WiFi & spesifikasi RAM laptop

Pabrik "Joki" dan Penghafal Pola

Inilah dampak paling korosif dari obsesi kita terhadap metrik TKA digital: munculnya industri bawah tanah. Grup Telegram dan forum diskusi penuh dengan "bocoran pola". Peserta tidak lagi belajar logika; mereka belajar algoritma. Mereka menghafal bahwa jika Pola A muncul, jawabannya pasti C, tanpa perlu memproses mengapa.

Sistem ini tidak menyaring talenta terbaik; ia menyaring mereka yang paling patuh pada sistem. (Ironis, bukan? Perusahaan berteriak mencari inovator yang out of the box, tapi menyaring mereka dengan kotak-kotak piksel yang kaku).

Jika simulasi ini terus dijadikan berhala utama rekrutmen, kita akan segera menghadapi krisis kompetensi yang nyata. Kita akan memiliki angkatan kerja yang jago mengerjakan tes, tapi lumpuh saat menghadapi masalah dunia nyata yang tidak memiliki opsi ganda A, B, C, D, atau E. Siapkah kita untuk itu?

MG
María GarcíaPeriodista

Periodista especializado en Sociedad. Apasionado por el análisis de las tendencias actuales.