Sociedad

Sindrom "Unsane": Krisis Nyata atau Jualan Psikolog Pop?

Layar ponsel Anda dipenuhi keluhan Gen Z yang merasa "unsane" (terombang-ambing antara waras dan tidak). Namun di balik jutaan penayangan tagar tersebut, benarkah kita sedang menghadapi epidemi kejiwaan baru di Indonesia? Atau jangan-jangan, ini sekadar taktik algoritma untuk mendulang simpati?

MG
María GarcíaPeriodista
26 de marzo de 2026, 17:052 min de lectura
Sindrom "Unsane": Krisis Nyata atau Jualan Psikolog Pop?

Pernahkah Anda membuka aplikasi video pendek akhir-akhir ini dan mendapati seorang remaja menangis dengan latar musik sendu, mengklaim dirinya sedang dalam fase "unsane"? (Tentu saja Anda pernah, algoritma tahu betul kelemahan kita pada drama). Istilah ini tiba-tiba meledak di jagat maya Indonesia sepanjang awal 2026. Mereka menyebutnya sebagai kondisi di mana seseorang tidak sepenuhnya gila, tetapi juga tidak bisa dibilang waras akibat tekanan hidup modern.

Pertanyaannya: sejak kapan diagnosis kejiwaan bisa dirumuskan dalam video berdurasi lima belas detik?

ParameterKondisi Klinis (Depresi/Bipolar)Label "Unsane" ala TikTok
Proses DiagnosisObservasi psikiater berbulan-bulan.Tes kepribadian online 2 menit.
ValidasiSertifikasi medis profesional.Jumlah likes dan validasi komentar.
Tujuan UtamaPemulihan dan manajemen emosi.Mendapatkan identitas kelompok.

Angka-angka tidak berbohong, tapi cara kita membacanya sering kali keliru. Data dari Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan konsultasi kesehatan mental di kalangan dewasa muda Jakarta dan Bandung tahun ini. Angka yang mengkhawatirkan? Pasti. Namun, beberapa perwakilan dari Asosiasi Psikologi Indonesia secara tersirat mengeluhkan fenomena aneh: lonjakan pasien yang datang sudah membawa "diagnosis" mereka sendiri. Mereka tidak mencari penyembuhan. Mereka mencari validasi atas label yang baru saja mereka temukan di linimasa mereka.

Siapa yang sebenarnya diuntungkan di sini?

Ketika penderitaan mental diubah menjadi mata uang sosial, kita kehilangan batas antara kelelahan emosional yang wajar dan gangguan kejiwaan yang sesungguhnya. Para kreator yang merangkap sebagai "psikolog pop" bermunculan bak jamur di musim hujan. Mereka menawarkan kelas penyembuhan trauma berharga jutaan rupiah (tentu saja dengan opsi cicilan paylater). Emosi manusiawi yang normal—merasa sedih, tertekan pekerjaan, muak dengan rutinitas—dikemas ulang sebagai sebuah sindrom eksotis yang butuh penanganan instan.

"Kita tidak sedang menghadapi epidemi gangguan mental baru. Kita sedang menghadapi epidemi diagnosa mandiri yang disponsori oleh kehausan akan perhatian publik."

Lalu, apa dampaknya bagi mereka yang benar-benar berjuang melawan skizofrenia klinis atau depresi berat? Suara mereka tenggelam. Penderitaan mereka yang sunyi, lambat, dan tidak estetik kalah bersaing dengan tangisan puitis berfilter monokrom yang sengaja direkam dengan *ring light* menyala.

Fenomena "unsane" ini pada akhirnya memaksa kita menatap cermin yang retak. Kita hidup di era di mana menjadi "normal" dianggap terlalu membosankan untuk dijadikan konten. Jika Anda merasa lelah, mungkin Anda hanya butuh tidur yang cukup, mematikan notifikasi, dan mengambil cuti. Tidak semua keletihan harus diberi nama berakhiran bahasa Inggris yang terdengar misterius.

Apakah kita siap menghadapi konsekuensi dari komodifikasi penderitaan ini?

MG
María GarcíaPeriodista

Periodista especializado en Sociedad. Apasionado por el análisis de las tendencias actuales.