Société

Awal Puasa 2026: Antara Hisab, Rukyat, dan Algoritma yang Sudah Menentukan Menu Sahur Anda

Februari 2026 ini bukan hanya soal hujan dan debat klasik penetapan tanggal. Saat Muhammadiyah dan Pemerintah kembali bersiap untuk 'berbeda jalan', mesin pemasaran global justru lebih tahu kadar keimanan (dan daya beli) kita daripada kita sendiri.

MC
Myriam CohenJournaliste
1 février 2026 à 23:013 min de lecture
Awal Puasa 2026: Antara Hisab, Rukyat, dan Algoritma yang Sudah Menentukan Menu Sahur Anda

Kita berada di tanggal 1 Februari 2026. Aroma sirup marjan imajiner sudah mulai membanjiri feed media sosial Anda, bukan? (Akui saja, algoritma TikTok Anda lebih religius daripada ustadz kompleks). Tahun ini, kita kembali dihadapkan pada ritual tahunan yang lebih pasti daripada pajak: perdebatan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah.

Apakah kita akan mulai menahan lapar pada Rabu, 18 Februari atau Kamis, 19 Februari? Bagi analis yang memperhatikan pola data—dan bukan sekadar sentimen ormas—jawabannya sudah tertulis di langit dan di spreadsheet para pedagang grosir.

⚡ The Essentials (Bagi yang Malas Baca Kalender)

  • Versi Muhammadiyah: Fix 18 Februari 2026 (Rabu). Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal tidak butuh teropong mahal, cuma matematika.
  • Versi Pemerintah (Likely): Kemungkinan 19 Februari 2026 (Kamis). Menunggu sidang isbat yang—mari jujur saja—seringkali hanya formalitas seremonial.
  • Realitas Pasar: Harga pangan sudah naik sejak Januari. Inflasi tidak menunggu hilal terlihat.

Drama Dualisme: Sebuah Tradisi yang Dipelihara?

Muhammadiyah sudah mengetuk palu: 18 Februari. Pemerintah, dengan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) yang mensyaratkan ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat, hampir pasti tidak akan melihat bulan pada Selasa sore. Artinya? Bulan Sya'ban digenapkan 30 hari. Kita akan puasa Kamis.

Tapi, apakah perbedaan satu hari ini benar-benar memecah belah umat? Atau ini hanya konten gratis bagi media (termasuk kami) untuk mendulang klik? Di lapangan, masyarakat kita sudah terlalu lelah dengan harga beras untuk peduli pada selisih 24 jam ini. Toleransi bukan lagi pilihan etis, melainkan mekanisme bertahan hidup.

👀 [Mengapa kita tidak pernah bisa satu suara?]

Bukan karena Tuhannya beda, tapi karena politik identitas dan otoritas keilmuan. NU dan Pemerintah memegang teguh tradisi observasi visual (rukyat) sebagai bentuk kepatuhan pada teks literal hadis. Muhammadiyah memeluk modernitas perhitungan (hisab) sebagai bentuk ijtihad progresif. Menyatukan keduanya berarti meminta salah satu pihak mengakui metodologinya 'usang' atau 'tidak valid'. Siapa yang mau melakukan bunuh diri organisasi seperti itu?

Ilusi Spiritual di Era Algoritma

Di sinilah bagian yang jarang dibicarakan. Sementara para ulama berdebat soal derajat ketinggian bulan, raksasa teknologi (Google, Meta, ByteDance) sudah memetakan Rencana Konsumsi Anda dengan presisi menakutkan.

Sejak seminggu lalu, apakah iklan di ponsel Anda berubah? Baju koko modern? Paket umrah kilat? Atau resep takjil rendah gula? Algoritma pasar tidak peduli kapan sidang isbat. Bagi mereka, Holy Month adalah Spending Month. Mereka menciptakan 'kesalehan artifisial' di layar Anda.

"Kita tidak lagi berpuasa menahan nafsu; kita hanya menunda konsumsi ke jam berbuka dengan porsi dua kali lipat, dipandu oleh notifikasi push app pesan-antar."

Data: Siapa Pemenang Sebenarnya?

Mari kita lihat apa yang terjadi pada pola konsumsi kita dibandingkan dengan tahun lalu. Angka ini tidak berbohong, tidak seperti janji politisi menjelang 2029.

IndikatorRamadan 2025Proyeksi 2026
Kenaikan Harga Pangan (H-14)+12%+18% (Efek Iklim)
Belanja Iklan Digital (Brand)Rp 6.5 TriliunRp 8.2 Triliun
Limbah Makanan (Per Kapita)0.7 kg/hariTetap Tinggi

Eksplorasi: Puasa Digital sebagai Kemewahan Baru

Apa yang berubah di 2026? Tren baru muncul di kalangan kelas menengah-atas Jakarta Selatan dan Surabaya Barat: Dopamine Fasting berkedok agama. Alih-alih hanya menahan lapar, elit baru ini membayar mahal untuk 'retreat sunyi' selama Ramadan—tanpa ponsel, tanpa sinyal.

Ironisnya, kemampuan untuk benar-benar 'berhenti' dari dunia digital kini menjadi simbol status. Rakyat jelata harus tetap online untuk bekerja (ojol, admin olshop), sementara si kaya bisa 'membeli' ketenangan spiritual. Puasa yang sejati di tahun 2026 mungkin bukan lagi soal perut kosong, melainkan soal siapa yang punya privilese untuk mematikan notifikasi.

Jadi, silakan perdebatkan tanggal 18 atau 19 Februari. Namun, pertanyaan yang lebih menakutkan adalah: bisakah Anda berpuasa dari keinginan untuk memamerkan ibadah Anda?

MC
Myriam CohenJournaliste

Le pouls de la rue, les tendances de demain. Je raconte la société telle qu'elle est, pas telle qu'on voudrait qu'elle soit. Enquête sur le réel.