Société

Bandung Terbakar Lagi: Romantisme Kota yang Menyembunyikan Bom Waktu

Sirene meraung lagi. Kita sebut itu musibah, tapi benarkah? Atau ini hanya konsekuensi logis dari tata kota yang kita biarkan semrawut atas nama 'estetika' dan nostalgia?

MC
Myriam CohenJournaliste
6 février 2026 à 11:013 min de lecture
Bandung Terbakar Lagi: Romantisme Kota yang Menyembunyikan Bom Waktu

Setiap kali frasa "kebakaran Bandung hari ini" muncul di notifikasi ponsel anda, naskahnya selalu sama. Asap hitam membumbung, warga panik menyelamatkan televisi tabung, dan armada pemadam kebakaran (Damkar) yang harus berjibaku bukan hanya melawan api, tapi juga melawan labirin gang senggol yang mustahil ditembus.

Sebagai seorang analis yang lelah dengan eufemisme, mari kita berhenti berpura-pura kaget. Apakah ini benar-benar 'musibah tak terduga'? Saya ragu.

Bandung, dengan segala romantisme Paris van Java-nya, sebenarnya sedang duduk di atas tumpukan jerami kering. Kita terlalu sibuk memoles Jalan Braga dan Asia Afrika agar Instagrammable, sementara infrastruktur dasar di pemukiman padat—tempat mayoritas warga kota ini tidur—dibiarkan membusuk seperti kabel tua yang terkelupas.

Narasi Klasik vs Realitas Lapangan

Pemerintah dan media seringkali terlalu cepat melabeli penyebab kejadian. "Korsleting listrik" adalah kambing hitam favorit. Mengapa? Karena itu menyalahkan benda mati, bukan kebijakan. Tapi mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di balik istilah teknis tersebut.

Narasi Resmi / PublikRealitas Urban yang Diabaikan
"Penyebab diduga korsleting listrik arus pendek."Instalasi kabel rumahan yang tidak pernah diremajakan sejak tahun 1990-an, ditambah beban elektronik modern yang berlebih.
"Armada Damkar kesulitan mencapai titik api."Zoning yang gagal. Izin bangunan diberikan tanpa memikirkan rasio jalan akses darurat. Gang selebar 1 meter untuk hunian 100 jiwa.
"Kerugian material mencapai miliaran rupiah."Hilangnya aset sejarah tak ternilai dan trauma kolektif warga miskin kota yang tidak memiliki asuransi properti.

Hidran Pajangan dan Estetika Semu

Pernahkah anda menghitung berapa banyak hidran yang berfungsi di Bandung? Jangan repot-repot. Sebagian besar dari mereka hanyalah patung besi merah yang estetik untuk latar foto pre-wedding, tapi kering kerontang saat dibutuhkan. (Ironis, bukan? Di kota yang curah hujannya tinggi, kita kehabisan air saat api melahap).

Masalahnya bukan pada petugas Damkar. Mereka adalah pahlawan yang dipaksa bekerja dengan tangan terikat. Masalahnya ada pada prioritas anggaran. Kita lebih rela menghabiskan miliaran untuk trotoar granit daripada meremajakan sistem pipa air bertekanan tinggi di distrik padat penduduk seperti Cicadas, Kiaracondong, atau Andir.

"Api adalah auditor paling jujur dan paling kejam bagi sebuah kota. Ia tidak peduli seberapa cantik taman kota anda; ia hanya peduli seberapa siap sistem keselamatan anda."

Refleksi yang Terlambat

Apa yang diubah oleh topik ini? Seharusnya, segalanya. Setiap laporan kebakaran di Bandung harusnya bukan lagi menjadi tontonan viral di media sosial. Itu adalah surat teguran keras bagi Balai Kota.

Jika kita terus menormalisasi kejadian ini sebagai "takdir", maka kita sedang menunggu giliran. Siapa yang paling terdampak? Selalu warga kelas menengah ke bawah. Mereka yang rumahnya berdempetan tanpa celah, yang kabel listriknya semrawut tumpang tindih dengan jemuran basah.

Lain kali anda melihat asap hitam di langit Bandung, jangan hanya berdoa. Marahlah. Marahlah pada tata kota yang lebih memprioritaskan kosmetik daripada keselamatan nyawa warganya.

MC
Myriam CohenJournaliste

Le pouls de la rue, les tendances de demain. Je raconte la société telle qu'elle est, pas telle qu'on voudrait qu'elle soit. Enquête sur le réel.