Sport

Besiktas dan Matinya Insting: Ketika Tablet Lebih Berkuasa dari Teriakan Pelatih

Dulu, keputusan pergantian pemain lahir dari intuisi, keringat, dan sedikit perjudian di pinggir lapangan. Kini di Istanbul, keputusan itu diketik dalam kode biner. Apakah sepak bola kehilangan jiwanya demi efisiensi?

MB
Mehdi Ben ArfaJournaliste
19 janvier 2026 à 21:012 min de lecture
Besiktas dan Matinya Insting: Ketika Tablet Lebih Berkuasa dari Teriakan Pelatih

Bayangkan Fatih Terim atau Sergen Yalcin di masa jayanya. Wajah merah padam, urat leher menegang, berteriak di tengah hiruk-pikuk stadion yang membekukan darah lawan. Keputusan mereka—siapa yang masuk, siapa yang keluar—seringkali tidak masuk akal di atas kertas, tapi brilian di lapangan. Itu adalah era "insting".

Sekarang, hapus gambaran itu.

Di Besiktas, salah satu raksasa sepak bola Turki yang paling bergairah, angin perubahan sedang berhembus, dan angin itu tidak membawa bau suar atau kebab, melainkan aroma dingin silikon. Kita sedang menyaksikan transisi diam-diam namun brutal: momen ketika algoritma mulai menduduki kursi manajer, menjadikan pelatih kepala tak lebih dari sekadar eksekutor data.

“Sepak bola modern bukan lagi tentang siapa yang paling menginginkan kemenangan, tapi siapa yang memiliki model prediktif terbaik. Romantisme sudah mati, dikubur di bawah tumpukan spreadsheet.”

Bukan Sekadar Moneyball

Anda mungkin berpikir, "Ah, ini kan cuma statistik biasa. Semua orang pakai Moneyball." Tunggu dulu. Apa yang terjadi di Istanbul (dan perlahan menyebar ke Eropa) melampaui sekadar merekrut pemain murah yang undervalued.

Kita berbicara tentang in-game management. Sensor biometrik di rompi pemain mengirimkan data real-time ke tablet di bangku cadangan. Algoritma memproses tingkat kelelahan, efektivitas pressing, dan probabilitas cedera dalam hitungan milidetik. Jika lampu indikator menyala merah untuk pemain bintang Anda di menit ke-60, dia keluar. Tidak peduli seberapa besar dia ingin bermain, atau seberapa keras penonton meneriakkan namanya.

Insting pelatih? Itu dianggap sebagai variabel yang "tidak stabil" dan "emosional".

👀 Apakah Pelatih Manusia Akan Punah?

Belum sepenuhnya. AI belum bisa memeluk pemain yang sedang depresi karena masalah keluarga, atau memotivasi tim yang tertinggal 0-3 di babak pertama dengan pidato berapi-api. Sisi psikologis (man-management) adalah benteng terakhir manusia. Namun, untuk urusan taktik murni dan rotasi? Robot sudah menang.

Korban Tak Terlihat: Sang Seniman Lapangan

Ironisnya, korban terbesar dari revolusi ini bukanlah pelatih, melainkan tipe pemain tertentu. Pikirkan Ricardo Quaresma atau Guti Hernandez—legenda yang pernah menghiasi Inonu Stadium. Mereka adalah pemain yang bermain dengan perasaan, seringkali malas berlari, tapi bisa menciptakan sihir dari ketiadaan.

Di mata algoritma, pemain seperti ini adalah "inefisiensi". Mereka merusak struktur pressing. Mereka menurunkan rata-rata kilometer tim. Sistem berbasis data cenderung menyukai pemain yang konsisten, rajin, dan terukur. Sepak bola menjadi lebih cepat, lebih atletis, dan jauh lebih membosankan. Kita sedang menuju era di mana 22 atlet super berlari tanpa henti, didikte oleh kode yang ditulis di Silicon Valley, sementara jiwa permainan perlahan menguap ke udara Istanbul yang lembap.

Besiktas mungkin akan memenangkan lebih banyak pertandingan dengan metode ini. Tapi apakah mereka masih akan memenangkan hati kita?

MB
Mehdi Ben ArfaJournaliste

Tactique, stats et mauvaise foi. Le sport se joue sur le terrain, mais se gagne dans les commentaires. Analyse du jeu, du vestiaire et des tribunes.