Di Balik Sirine: Mengapa Imsak di Medan Lebih dari Sekadar Jam Berhenti Makan?
10 menit sebelum subuh di Tanah Deli bukan sekadar hitungan mundur digital. Ini adalah orkestra kafein terakhir, asap rokok yang terburu-buru, dan gema sejarah dari Masjid Raya yang menyatukan kota.

Bayangkan ini: pukul 04.50 pagi di kawasan Kampung Baru atau mungkin di pinggiran Polonia. Udara Medan, seperti biasa, sudah terasa lembap dan 'berat' bahkan sebelum matahari berani muncul. Di sinilah teater kecil itu dimulai.
Anda tidak perlu melihat jam tangan atau mengetik "imsak medan hari ini" di layar ponsel yang menyilaukan mata (meski kita semua melakukannya). Anda hanya perlu mendengarkan. Ada ritme yang tak tertulis di kota ini. Suara sendok beradu dengan piring yang semakin cepat, seruputan kopi terakhir yang nyaris membakar lidah, dan kemudian—bunyi itu.
Sirine. Atau terkadang, suara tarhim yang spesifik dari toa masjid yang seolah memiliki tekstur suara tahun 80-an.
Ritual 10 Menit yang Menentukan
Bagi orang luar, Imsak mungkin hanya penanda waktu. Sebuah batas teknis. Tapi bagi masyarakat Medan, khususnya dengan kultur Melayu Deli yang kental, Imsak adalah zona transisi psikologis. Ini adalah buffer zone antara kenikmatan duniawi (baca: lontong sayur dan teh manis) dengan disiplin spiritual.
Pernahkah Anda perhatikan betapa dramatisnya momen ini? Di Medan, Imsak bukan sekadar "berhenti makan". Itu adalah sinyal sosial. Ketika sirine dari Masjid Raya Al-Mashun menggema—suara yang seakan merayap di atas atap-atap seng—seluruh kota serentak menahan napas. Ada keheningan kolektif yang aneh tapi menenangkan.
Mari kita bandingkan bagaimana generasi lama dan baru merespons momen krusial ini. Perbedaannya cukup mencolok (dan sedikit menggelikan).
| Elemen | Gaya 'Anak Medan' Tradisional | Gaya Gen-Z Digital |
|---|---|---|
| Sumber Waktu | Sirine Masjid / Teriakan Tetangga | Notifikasi Aplikasi / Google |
| Reaksi Terakhir | "Ah, sempat lagi sebatang rokok ini." | Panik minum air 1 liter dalam 30 detik. |
| Suasana | Komunal (Makan bareng keluarga) | Individual (Scroll TikTok sambil sahur) |
Denyut Nadi Tanah Deli
Kenapa Medan terasa berbeda? Karena di sini, agama tidak bersembunyi di ruang privat. Ia tumpah ke jalanan. Tradisi 'Jalan-jalan Subuh' (JJS) yang mungkin mulai pudar di Jakarta, masih memiliki nyawanya sendiri di beberapa sudut Medan setelah waktu subuh usai.
Namun, momen Imsak adalah kunci pembukanya. Dalam tradisi fiqih yang dipegang mayoritas masyarakat Melayu, kehati-hatian (ihtiyath) adalah segalanya. Waktu Imsak yang biasanya dipatok 10 menit sebelum azan Subuh sebenarnya bukan waktu haram makan. Anda tahu itu, kan?
👀 Mitos atau Fakta: Masih boleh makan saat Imsak?
Ini rahasia umum yang sering disalahartikan. Secara hukum syariat, puasa dimulai saat Terbit Fajar Shadiq (Azan Subuh). Jadi, waktu Imsak hanyalah "lampu kuning".
Apakah Anda berdosa jika menelan sisa nasi saat sirine Imsak berbunyi? Tidak. Tapi di Medan, melanggar sirine Imsak rasanya seperti melanggar lampu merah di depan polisi: tidak haram, tapi memancing adrenalin dan rasa bersalah sosial yang tidak perlu. Sirine itu adalah kearifan lokal untuk mencegah kita 'kebablasan'.
Denyut spiritual ini bukan hanya soal menahan lapar. Ini adalah sinkronisasi massal. Bayangkan jutaan orang di satu kota, dengan latar belakang Batak, Jawa, Minang, India, dan Tionghoa (yang mungkin ikut bangun karena suara keramaian), menyepakati satu ritme waktu yang sama.
Pencarian keyword "imsak medan hari ini" mungkin hanyalah data statistik bagi Google. Tapi bagi kita? Itu adalah bentuk kecemasan modern akan ketepatan waktu. Kita takut tertinggal. Kita takut kehilangan momen start yang sama dengan orang lain.
Maka, besok pagi saat Anda mendengar sirine itu atau melihat notifikasi di ponsel, jangan hanya buru-buru meletakkan gelas. Rasakan getarannya. Itu adalah suara kota yang sedang bersiap untuk mensucikan diri, satu hari lagi, di tengah hiruk pikuk dunia yang tak pernah benar-benar tidur.
Le pouls de la rue, les tendances de demain. Je raconte la société telle qu'elle est, pas telle qu'on voudrait qu'elle soit. Enquête sur le réel.


