Drawing AFF 2026: Lobi Senyap dan Transaksi di Ruang VVIP
Lupakan bola-bola kaca di atas panggung. Drama sesungguhnya terjadi di suite hotel bintang lima, di mana jadwal liga domestik digadaikan dan rivalitas 'abadi' diatur demi rating televisi.

Jika Anda berpikir drawing Piala AFF 2026 (atau apa pun nama sponsor yang tertera di tiket nanti) hanyalah soal nasib dan probabilitas matematika, Anda terlalu polos. Saya ada di sana, bukan di barisan kursi pers yang disediakan panitia dengan Wi-Fi lemot itu, tapi di lounge tertutup tempat asap cerutu masih diperbolehkan mengepul. Di sinilah peta sepak bola Asia Tenggara sebenarnya digambar ulang.
Mari kita bicara jujur (sesuatu yang jarang dilakukan para delegasi federasi di depan mikrofon). Kemegahan acara seremonial di panggung utama hanyalah teater. Bagi 'orang dalam', pertarungan dimulai 24 jam sebelumnya.
"Kita tidak bisa membiarkan Grup B sepi penonton. Pastikan Indonesia dan Vietnam bertemu, atau setidaknya Malaysia. Sponsor butuh drama, bukan sekadar sepak bola." — Bisikan seorang eksekutif hak siar media di sela-sela makan malam gala.
Kalimat itu terdengar kejam? Mungkin. Tapi begitulah roda bisnis federasi berputar. Angka tidak berbohong: duel rivalitas klasik menghasilkan pendapatan iklan tiga kali lipat dibanding laga teknis murni antara, katakanlah, Thailand melawan Filipina. Ada tekanan tak kasat mata agar bola-bola undian itu 'jatuh' di tempat yang paling menguntungkan secara komersial. Apakah ini murni kebetulan statistik? Silakan simpulkan sendiri.
Agenda Politik yang Membonceng
Jangan lupakan tahun politik. Di beberapa negara peserta, performa tim nasional adalah alat kampanye paling murah namun efektif. Saya melihat seorang petinggi federasi—namanya tidak perlu saya sebut, Anda tahu siapa—sibuk melobi jadwal pertandingan kandang agar bertepatan dengan minggu krusial pemilihan umum di negaranya. Stadion penuh, sorak-sorai nasionalisme, dan foto kandidat di layar raksasa; itu paket humas yang tak ternilai harganya.
👀 Apa yang mereka takutkan dari 'Grup Neraka'?
Di sudut lain, ada perbincangan panas soal pemain naturalisasi. Ini bukan lagi soal strategi teknis pelatih, melainkan perlombaan senjata administratif. Ada lobi-lobi agar regulasi pendaftaran pemain sedikit 'dilonggarkan' demi mengakomodasi paspor yang baru dicetak seminggu sebelum kick-off. Siapa yang paling diuntungkan? Tentu saja negara dengan diaspora terbesar di Eropa.
Pada akhirnya, ketika lampu sorot dimatikan dan para delegasi pulang membawa goodie bag mewah, yang tersisa adalah jadwal pertandingan yang brutal bagi pemain. Klub-klub domestik akan menjerit (lagi), jadwal liga akan berantakan (lagi), tapi siapa peduli? Hak siar sudah terjual, dan para 'raja kecil' di federasi sudah mengamankan posisi mereka. Kita? Kita akan tetap menonton, marah-marah di media sosial, dan membeli jersi terbaru. Siklus yang sempurna.
Tactique, stats et mauvaise foi. Le sport se joue sur le terrain, mais se gagne dans les commentaires. Analyse du jeu, du vestiaire et des tribunes.

