Kelaparan yang Menyembuhkan: Doa Puasa Sebagai 'Reset' Spiritual di Era Digital
Di dunia yang terobsesi dengan konsumsi tanpa henti, memilih untuk lapar adalah tindakan pemberontakan. Bukan sekadar ritual kuno, doa puasa kini menjadi satu-satunya cara efektif untuk mematikan kebisingan dan mendengar kembali suara hati (atau Tuhan) yang tenggelam.

Bayangkan Sarah. Eksekutif muda di Jakarta Selatan, 32 tahun, gaji dua digit, dan langganan terapi karena kecemasan kronis. Dia tidak butuh liburan ke Bali (dia sudah di sana bulan lalu, dan itu tidak membantu). Apa yang dia lakukan selanjutnya mengejutkan teman-temannya yang terbiasa brunch di hari Minggu: dia berhenti makan.
Bukan karena diet keto. Bukan demi lingkar pinggang. Sarah sedang melakukan praktik yang setua peradaban manusia: doa puasa. Dia mencari kesunyian di tengah perut yang keroncongan.
Sikap "The Storyteller Pedagogue" mengharuskan kita melihat ini bukan sebagai statistik agama, tapi sebagai fenomena kemanusiaan. Mengapa di era di mana kita bisa mendapatkan segalanya dengan satu klik, kita justru mencari makna melalui privasi (pengurangan)?
“Kenyang itu membius. Lapar itu membangunkan. Dalam ketiadaan makanan, indera spiritual kita menjadi tajam setajam silet.” — Refleksi Biarawan Modern
Bukan Sekadar Biohacking
Mari luruskan satu hal: Silicon Valley telah mempopulerkan puasa sebagai alat produktivitas (halo, Intermittent Fasting). Jack Dorsey makan sekali sehari demi fokus. Tapi doa puasa spiritual adalah binatang yang sama sekali berbeda. Jika biohacking bertujuan untuk mengoptimalkan mesin biologis bernama tubuh, doa puasa bertujuan untuk menundukkan ego.
Saat Anda menolak piring nasi itu, Anda tidak sedang membakar lemak. Anda sedang memberi tahu tubuh Anda: "Kamu bukan bosnya." (Sebuah pernyataan yang jarang kita ucapkan pada diri sendiri belakangan ini).
Dalam tradisi Ramadhan, Prapaskah Katolik, atau puasa Ester, esensinya sama: menciptakan ruang hampa. Alam semesta membenci kehampaan, dan dalam konteks spiritual, ruang kosong itu tidak dibiarkan kosong lama-lama. Ia diisi oleh kejernihan yang mustahil didapat saat perut penuh dan dopamin meluap.
Detoks Dopamin yang Sebenarnya
Masalah terbesar spiritualitas kontemporer bukanlah ateisme, melainkan gangguan (distraksi). Kita terlalu sibuk untuk menjadi spiritual. Doa puasa di tahun 2024 telah bermutasi menjadi sesuatu yang lebih luas: puasa dari layar.
Mencoba berdoa atau bermeditasi sambil memegang smartphone adalah lelucon kosmik. Doa puasa modern menuntut pemutusan hubungan total. Ini adalah antitesis dari algoritma. Jika Instagram didesain untuk membuat Anda merasa kurang dan menginginkan lebih, puasa mengajarkan bahwa Anda bisa bertahan (dan bahkan berkembang) dengan kurang.
👀 Mengapa puasa sering membuat kita marah (Hangry)?
Kemewahan Sebuah Rasa Lapar
Terdengar ironis, bukan? Di dunia di mana kelaparan adalah tragedi kemanusiaan, memilih untuk lapar adalah sebuah privilese (kemewahan). Namun, relevansinya tak terbantahkan. Generasi Z dan Milenial mulai kembali ke praktik asketisme ini bukan karena dogma orang tua, tapi karena kelelahan mental.
Mereka menyadari bahwa "kenyang" secara fisik dan digital telah membuat jiwa mereka tumpul. Doa puasa menawarkan tombol reset yang brutal namun efektif.
Jadi, lupakan sejenak debat teologis tentang cara yang "benar" untuk berpuasa. Intinya bukan pada jam berapa Anda boleh minum. Intinya adalah keberanian untuk duduk diam bersama rasa tidak nyaman, menatap kehampaan, dan menemukan bahwa di sana—di tengah rasa lapar itu—Anda akhirnya menemukan diri Anda kembali.
Le pouls de la rue, les tendances de demain. Je raconte la société telle qu'elle est, pas telle qu'on voudrait qu'elle soit. Enquête sur le réel.


