Politique

Riza Chalid: Hantu Rp285 Triliun yang (Kembali) Menghilang di Depan Hidung Kita

Red Notice sudah keluar, anaknya sudah mengenakan rompi tahanan, namun Sang Godfather Bensin tetap menjadi asap. Apakah ini akhir dari sebuah era, atau hanya babak baru permainan petak umpet paling mahal dalam sejarah republik?

AM
Anne-Laure MercierJournaliste
14 février 2026 à 08:013 min de lecture
Riza Chalid: Hantu Rp285 Triliun yang (Kembali) Menghilang di Depan Hidung Kita

Mereka bilang uang selalu meninggalkan jejak. Tapi bagi Riza Chalid, uang tampaknya meninggalkan ruang hampa udara. Februari 2026 ini, kita berdiri di tepi jurang skandal yang membuat kasus "Papa Minta Saham" (2015) terlihat seperti pencurian permen di warung tetangga.

Kejaksaan Agung baru saja menampar publik dengan angka: Rp285 triliun. Itu bukan uang monopoli. Itu adalah estimasi kerugian negara dari sengkarut tata kelola minyak mentah Pertamina (2018-2023). Dan tebak siapa nama yang kembali berdengung di lorong-lorong kekuasaan? MRC. Sang Gasoline Godfather.

"Di Jakarta, Anda bisa membeli hukum. Di Singapura, Anda membeli ketenangan. Riza tampaknya memborong keduanya selama dua dekade terakhir." — Sumber Anonim di Lingkaran Energi.

Warisan Sang Hantu

Mari kita jujur sebentar. Generasi TikTok mungkin hanya mengenal Riza dari berita penangkapan putranya, Muhammad Kerry Adrianto, yang kini memohon belas kasihan Presiden Prabowo. Tapi bagi pemain lama, Riza adalah mitos. Dia adalah arsitek Petral yang tak tersentuh, pria yang bisa masuk ke pertemuan tingkat tinggi tanpa undangan dan keluar dengan kontrak miliaran dolar.

Dulu, dia hanyalah suara dalam rekaman yang mengguncang DPR. Sekarang? Dia adalah buronan Red Notice yang entah bagaimana, menurut data imigrasi, sempat "mampir" ke Singapura Agustus lalu sebelum menghilang lagi bagai asap cerutu. Bagaimana seseorang dengan profil setinggi itu bisa lolos dari jaring interpol? (Tanya pada tembok yang memiliki telinga).

Bukan Lagi Sekadar "Broker"

Jika dulu dia bermain di pinggiran, dakwaan terbaru menunjukkan evolusi yang menakutkan. Ini bukan lagi soal meminta komisi. Ini soal penguasaan infrastruktur. Lewat entitas seperti PT Orbit Terminal Merak, pola permainannya berubah dari perantara menjadi pemilik arena. Kerugian negara bukan lagi "kebocoran", tapi "banjir bandang".

Era SkandalKasus UtamaStatus Riza
2008Impor Minyak ZatapiLolos (Kasus Dihentikan)
2015Papa Minta Saham (Freeport)Menghilang (Tak Tersentuh)
2025-2026Korupsi Kilang PertaminaBuronan (Red Notice)

Anak Sebagai Tumbal?

Pemandangan Kerry Adrianto dengan rompi tahanan adalah ironi tragis. Sang putra, yang mewarisi tahta bisnis, kini harus menjawab dosa-dosa dinasti. Permintaannya agar Presiden melihat kasus ini dengan "jernih" adalah kode keras: Apakah kesepakatan lama sudah tidak berlaku?

Riza Chalid tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya mengubah wujud. Aset-aset mewahnya di Jakarta Selatan mungkin sudah disegel pita merah putih, tapi aset terbesarnya—jaringan dan rahasia yang ia pegang tentang elit negeri ini—masih tersimpan aman di kepalanya. Dan selama dia memegang kartu itu, memulangkannya ke Indonesia akan menjadi misi bunuh diri politik bagi siapa pun yang berani mencoba.

👀 Di mana Riza Bersembunyi?

Rumor di kalangan intelijen swasta menyebutkan tiga kemungkinan:

  • Singapura: Klasik. Meski perjanjian ekstradisi sudah ada, birokrasi di sana bisa sangat... pelindung bagi investor besar.
  • Eropa Timur: Destinasi baru bagi oligarki yang menghindari radar Interpol Barat.
  • Di Depan Mata: Beberapa teori konspirasi bahkan menyebut dia masih mengendalikan operasi dari kapal pesiar di perairan internasional, hanya sesekali merapat untuk urusan mendesak.

Pertanyaannya bukan "di mana Riza?", tapi "siapa yang paling takut jika dia tertangkap?".

AM
Anne-Laure MercierJournaliste

Je hante les couloirs du pouvoir. Je traduis le "politiquement correct" en français courant. Ça pique, mais c'est vrai. Les lois, je les lis avant le vote.