Tech

Vidio: Rahasia Gelap Algoritma Pengepul Data

Kita mengira kita sedang menonton drama lokal atau siaran sepak bola malam hari. Padahal, kitalah yang sedang ditonton secara intensif dan sistematis.

DR
Damien RocheJournaliste
26 février 2026 à 14:053 min de lecture
Vidio: Rahasia Gelap Algoritma Pengepul Data

Ada sebuah lelucon internal di antara para insinyur data di Jakarta: Anda adalah apa yang Anda binge-watch pada Jumat malam. Dari balik pintu berlapis kaca ruang peladen yang bersenandung tanpa henti, saya pernah melihat sekilas bagaimana platform streaming raksasa lokal ini benar-benar beroperasi. Vidio, sang permata mahkota dari ekosistem Emtek, tidak sekadar menyiarkan pertandingan BRI Liga 1 atau drama orisinal terbaru. Mesin ini menyerap perilaku penontonnya tetes demi tetes.

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa rekomendasi di beranda Anda selalu terasa agak terlalu personal?

Saat Anda menekan tombol jeda pada menit ke-12 di sebuah adegan emosional, atau memutar ulang gol penalti pada pukul dua dini hari, Anda tidak sedang mengendalikan pemutar video. Anda sedang memberi makan sebuah algoritma yang dirancang khusus untuk memahami denyut nadi atensi Anda. (Sebuah metrik yang sesungguhnya jauh lebih berharga daripada biaya langganan bulanan Anda yang terlihat murah itu).

👀 [Data Apa yang Sebenarnya Diserap Sistem?]
Bukan hanya sekadar alamat email atau umur. Algoritma merekam dwell time (berapa milidetik Anda ragu sebelum mengeklik sebuah thumbnail), titik putus tayang (kapan persisnya Anda merasa bosan dan menutup aplikasi), transisi perangkat (dari ponsel di KRL ke Smart TV di ruang tamu), dan bahkan korelasi antara cuaca di lokasi Anda dengan genre tontonan yang dipilih.

Mari kita buka sedikit rahasia dapurnya. Tidak seperti para raksasa Silicon Valley yang sering kali hanya mengandalkan tontonan fiksi, Vidio memiliki senjata nuklir penahan atensi: Olahraga live yang dipadukan dengan konten hiper-lokal. Mereka mengunci mata Anda dengan Liga Inggris atau bulu tangkis, lalu secara perlahan menyuntikkan seri orisinal ke beranda Anda berdasarkan kalkulasi rumit mengenai seberapa besar tingkat toleransi Anda terhadap jeda tayangan. Ini sama sekali bukan kebetulan; ini adalah koreografi data tingkat tinggi yang direncanakan di ruang rapat tertutup.

"Kami tidak sekadar menjual konten hiburan. Kami memanen probabilitas bahwa pengguna A akan merespons iklan produk B di ekosistem kami, setelah kami mengetahui kecenderungan psikologisnya lewat tayangan C."

Penuturan seorang mantan arsitek sistem yang enggan disebutkan namanya ini selalu terngiang di telinga saya. Vidio bukanlah entitas tunggal yang melayang di ruang hampa maya. Platform ini terhubung dengan urat nadi raksasa lainnya seperti Bukalapak, DANA, dan jaringan media konvensional. Data tontonan Anda (apakah Anda lebih menyukai pemeran utama yang glamor atau pahlawan kelas pekerja) berpotensi menjadi variabel silang untuk menargetkan iklan finansial yang sangat presisi.

Lalu, siapa yang benar-benar terdampak oleh skema tak kasat mata ini? Kita semua. Para konsumen yang masih merasa bangga memiliki kendali penuh atas remote TV. Perubahan senyap ini mengubah kita dari penikmat hiburan murni menjadi produsen data mentah yang paling produktif. Sangat jarang dibicarakan bagaimana lokalisasi platform OTT ini telah sukses mereplikasi taktik manipulasi psikologis ala Netflix, namun membungkusnya dengan wajah yang jauh lebih merakyat dan relatable.

Lain kali Anda menatap layar kaca untuk mencari hiburan malam, ingatlah satu hal. Layar itu tidak pernah benar-benar datar; ia adalah sebuah cermin dua arah.

DR
Damien RocheJournaliste

Geek, hacker et prophète à temps partiel. Je vous explique pourquoi votre grille-pain va bientôt dominer le monde. L'IA, la crypto et le futur, c'est maintenant.