Olahraga

Ittihad vs Al-Ettifaq: Audit Brutal di Tengah Gurun Pasir (Bukan Sekadar Sepak Bola)

Ketika peluit berbunyi di Jeddah, yang bertanding bukan hanya sebelas lawan sebelas. Ini adalah bentrokan antara portofolio investasi negara dan ego manajerial Inggris yang terluka. Apakah uang benar-benar bisa membeli 'jiwa' kompetisi?

TR
Taufik Rahman
16 Januari 2026 pukul 19.013 menit baca
Ittihad vs Al-Ettifaq: Audit Brutal di Tengah Gurun Pasir (Bukan Sekadar Sepak Bola)

Mari kita hentikan kepura-puraan bahwa ini hanyalah pertandingan pekan biasa di Saudi Pro League. Bukan, ini adalah audit publik. Di satu sisi, kita memiliki Al-Ittihad, permata mahkota yang didanai langsung oleh Public Investment Fund (PIF), simbol dari ambisi tak terbatas Kerajaan yang ingin mengubah peta sepak bola global dengan cek kosong. Di sisi lain? Al-Ettifaq.

Klub asuhan Steven Gerrard ini adalah anomali. Mereka bukan bagian dari "Big Four" yang dinasionalisasi secara efektif oleh negara (bersama Hilal, Nassr, dan Ahli). Mereka adalah 'kelas menengah atas' yang mencoba mendobrak pintu elit dengan palu godam bernama gaji selangit, namun tanpa jaring pengaman sebesar lawan mereka. (Menyedihkan, atau justru heroik? Tergantung seberapa sinis Anda melihat kapitalisme olahraga).

Di Bawah Mikroskop Neraca Keuangan

Narasi resmi liga selalu tentang "pertumbuhan organik" dan "gairah". Omong kosong. Lihatlah angka-angkanya. Pertandingan ini adalah studi kasus tentang ketimpangan struktural yang disengaja. Ittihad didesain untuk menang; Ettifaq didesain untuk menjadi pengganggu yang kredibel.

KategoriAl-Ittihad (The Establishment)Al-Ettifaq (The Disruptor)
Status Kepemilikan75% PIF (Milik Negara)Klub Anggota (Dukungan Kementerian)
Tekanan BintangKarim Benzema (Harus perform atau jadi beban nasional)Moussa Dembélé (Pembuktian karir)
Beban ManajerWajib JuaraSteven Gerrard (Mempertaruhkan reputasi Eropa)

Apa yang terjadi jika proyek Steven Gerrard runtuh di Dammam? Dia akan pulang ke Inggris, mungkin menjadi pandit TV, dan menyalahkan cuaca panas. Tapi jika Ittihad gagal? Itu adalah kegagalan investasi negara. Taruhannya tidak seimbang.

"Sepak bola modern di Timur Tengah bukan tentang siapa yang mencetak gol lebih banyak, melainkan tentang siapa yang membenarkan pengeluaran anggaran kuartal fiskal mereka dengan lebih baik."

Kita sering mendengar keluhan tentang Benzema. 'Dia tidak bahagia', 'dia malas', 'dia merindukan Madrid'. Apakah kita seharusnya peduli? Dia adalah aset dengan depresiasi tinggi yang dibayar untuk menjadi wajah billboard. Pertandingan melawan Ettifaq adalah ujian lakmus. Jika Ittihad tidak bisa mendominasi tim yang 'hanya' diasuh Gerrard, validitas seluruh proyek akuisisi PIF patut dipertanyakan.

Ilusi Kompetisi

Apakah liga ini kompetitif, atau hanya serangkaian pertandingan eksibisi yang dimuliakan? Ittihad vs Ettifaq seharusnya menjawab itu. Jika Ittihad menang mudah 4-0, narasi "Big Four" semakin kuat dan liga menjadi membosankan (seperti Bundesliga, tapi tanpa bir dan bratwurst). Namun, jika Ettifaq mencuri poin... ah, barulah kita bicara tentang liga yang sebenarnya.

Ettifaq mewakili realitas. Mereka tidak punya dana tak terbatas. Mereka harus mengandalkan taktik (kadang-kadang) dan semangat juang. Kemenangan mereka akan menjadi kemenangan bagi sisa-sisa 'sepak bola normal' di tengah badai riyal.

Jadi, saat Anda menonton pertandingan ini, jangan hanya melihat bolanya. Lihatlah bahasa tubuh para pemain. Lihatlah tribun penonton (apakah penuh?). Lihatlah kepanikan di mata para eksekutif jika tim mahal mereka tertinggal satu gol. Di situlah drama sesungguhnya berada.

TR
Taufik Rahman

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Olahraga. Bersemangat menganalisis tren terkini.