Olahraga

Persebaya vs PSM: Saat Romantisme Sejarah Diuangkan

Di balik narasi 'Duel Klasik', ada mesin kasir yang berdenting lebih keras daripada chant tribun. Laga ini bukan lagi sekadar soal gengsi Jawa vs Sulawesi, melainkan audit forensik paling brutal terhadap wajah industri sepak bola kita.

TR
Taufik Rahman
25 Februari 2026 pukul 11.013 menit baca
Persebaya vs PSM: Saat Romantisme Sejarah Diuangkan

Jangan biarkan komentator televisi membius Anda dengan kata "legendaris" atau "klasik" tanpa henti. Memang, pertemuan Persebaya Surabaya dan PSM Makassar adalah arsip hidup sejarah sepak bola Indonesia sejak era Perserikatan. Namun, jika Anda menatap lebih dekat (sedikit menyipitkan mata melewati asap suar yang kini dilarang), apa yang sebenarnya kita tonton?

Kita sedang menyaksikan benturan dua entitas korporat yang sedang berjuang menyeimbangkan neraca keuangan di atas fanatisme buta pendukungnya.

Apakah Anda benar-benar berpikir 'rivalitas' adalah satu-satunya alasan tribun bergemuruh? Atau itu hanya bumbu penyedap agar tiket VIP dan jersey authentic seharga setengah UMR laku keras?

Sepak bola modern Indonesia adalah paradoks: ia menuntut loyalitas tribal dari suporter era 80-an, namun memperlakukan mereka dengan mekanisme pasar tahun 2024.

Identitas yang Dikemas Ulang (Re-branding)

Mari kita bicara jujur soal identitas. Persebaya dengan Bonek-nya adalah simbol perlawanan kelas pekerja. PSM dengan Juku Eja-nya adalah representasi harga diri Indonesia Timur. Itu dulu. Sekarang? Identitas itu telah disanitasi, dipoles, dan dijual kembali kepada pemilik aslinya dengan harga premium.

Lihatlah distorsi yang terjadi. Regulasi pelarangan suporter tamu—yang seringkali didalilkan demi keamanan—sebenarnya adalah taktik efisiensi biaya operasional (dan cara halus mematikan kultur 'away day' yang dianggap tidak profitabel bagi tuan rumah). Kita dipaksa menjadi konsumen pasif di depan layar kaca, menaikkan rating siaran yang uang hak siarnya entah menetes ke mana.

Ketika Bonek bertransformasi menjadi lebih 'tertib', apakah itu evolusi budaya atau sekadar gentrifikasi tribun agar ramah sponsor? Pertanyaan yang tidak nyaman, bukan?

Disparitas Modal: Siapa yang Punya Rumah?

Perbedaan paling mencolok dari laga ini bukanlah taktik pelatih, melainkan struktur kapital di belakang layar. Persebaya, yang telah dikelola secara korporasi modern pasca-kembalinya status mereka, memiliki kemewahan infrastruktur yang stabil di Surabaya.

Di sisi lain, PSM Makassar? Klub tertua di Indonesia ini adalah studi kasus tragis tentang bagaimana sejarah tidak bisa membayar sewa gedung. Kehilangan Stadion Mattoanging adalah tamparan keras realitas: tanpa aset properti (kapital fisik), sebuah klub legendaris pun bisa menjadi musafir di tanahnya sendiri. Bosowa Group mungkin raksasa, tetapi dinamika politik-ekonomi lokal membuat Juku Eja harus merantau ke Parepare (sebelum renovasi dimulai).

Ini menciptakan ketimpangan yang jarang dibahas analis taktik:

AspekEra Perserikatan (Romantisme)Era Liga 1 (Industri)
Basis KekuatanFanatisme Daerah (APBD)Valuasi Sponsor & Hak Siar
SuporterBagian dari KlubTarget Pasar / Konsumen
StadionRumah Rakyat (Angker)Aset Properti / Beban Sewa

Pertandingan ini, pada akhirnya, adalah cermin retak. Kita melihat Persebaya yang mencoba memonetisasi basis massa raksasa mereka, melawan PSM yang berjuang mempertahankan eksistensi di tengah badai infrastruktur. Skor akhir mungkin penting untuk klasemen, tetapi pertempuran sebenarnya terjadi di laporan keuangan akhir tahun.

Siapa yang menang? Tentu saja bukan suporter yang harus menabung berbulan-bulan hanya untuk dianggap 'loyal'. Pemenangnya adalah mereka yang berhasil mengubah gairah menjadi grafik pendapatan.

TR
Taufik Rahman

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Olahraga. Bersemangat menganalisis tren terkini.