Budaya

Matinya Sidang Isbat: Ketika Algoritma Google Menjadi Imam Besar 2026

Kita tidak lagi menengadah ke langit mencari hilal; kita menunduk menatap layar OLED. Pada tahun 2026, otoritas waktu suci telah berpindah diam-diam dari pemuka agama ke baris kode di Mountain View.

DS
Dewi Sartika
16 Januari 2026 pukul 06.012 menit baca
Matinya Sidang Isbat: Ketika Algoritma Google Menjadi Imam Besar 2026

Lupakan teleskop canggih di Pelabuhan Ratu. Abaikan perdebatan panjang antara metode hisab dan rukyat yang dulu rutin menghiasi layar kaca kita menjelang Ramadan. Di tahun 2026 ini, ritual pencarian bulan baru telah mengalami mutasi yang mengerikan namun tak terelakkan: ia menjadi sekadar query pencarian.

Fenomena ini bukan terjadi tiba-tiba. (Siapa yang sadar kapan tepatnya kita berhenti mempercayai kalender dinding?). Namun, data pencarian tahun ini menunjukkan pergeseran tektonik. Frasa "tanggal hijriah hari ini" bukan lagi sekadar pertanyaan informatif; ia adalah bentuk penyerahan diri massal.

Posisi Nol adalah Kiblat Baru

Mari kita bersikap jujur sejenak. Ketika Anda mengetikkan pertanyaan itu, Anda tidak mencari pendapat ulama. Anda mencari Featured Snippet—kotak jawaban instan Google yang muncul di paling atas. Jika kotak itu mengatakan hari ini adalah 1 Rajab, maka bagi 90% populasi digital, hari ini adalah 1 Rajab.

Apakah algoritma peduli bahwa Nahdlatul Ulama mungkin belum melihat bulan karena tertutup mendung? Apakah crawler mesin pencari memperhitungkan kriteria Imkanur Rukyat MABIMS terbaru? Tentu saja tidak. Algoritma peduli pada konsensus data, kecepatan load halaman, dan otoritas domain. Kebenaran teologis telah digantikan oleh optimasi SEO.

"Kita telah memensiunkan kearifan lokal demi kenyamanan biner. Google tidak memiliki mazhab; ia hanya memiliki metadata."

Komparasi: Langit vs Kode

Inilah yang sebenarnya terjadi ketika kita membiarkan mesin mengatur ritme spiritual kita. Pergeserannya bukan hanya soal alat, tapi soal esensi otoritas.

AspekOtoritas Tradisional (Sidang Isbat)Otoritas Algoritma (Google 2026)
Sumber KebenaranObservasi Alam & Teks KitabAgregasi Data & Skema Metadata
Proses ValidasiMusyawarah & Konsensus UlamaKecepatan Indeks & Popularitas Klik
FleksibilitasTinggi (Bisa berbeda antar wilayah)Rendah (Satu jawaban mutlak di layar)
Dampak PsikologisKetidakpastian yang memicu doaKepastian instan yang mematikan rasa

Standarisasi yang Membutakan

Masalah terbesarnya di sini adalah hilangnya nuansa. Islam, dalam sejarah panjangnya, selalu memberikan ruang bagi perbedaan penentuan waktu berdasarkan geografis (matla'). Apa yang dilakukan oleh dominasi hasil pencarian instan di 2026 adalah memaksakan satu "Waktu Islam Global" yang steril.

Jika server di California memutuskan (berdasarkan input dari widget kalender pihak ketiga yang paling banyak diunduh) bahwa Idul Fitri jatuh hari Selasa, maka keraguan lokal dianggap sebagai bug, bukan fitur keimanan. Kita sedang menyaksikan kolonisasi waktu ibadah.

Mengapa ini berbahaya? Karena kita perlahan kehilangan kemampuan untuk menunggu. Momen magis menunggu pengumuman Menteri Agama—rasa deg-degan kolektif itu—adalah bagian dari ibadah itu sendiri. Dengan menyerahkannya pada notifikasi ponsel pintar, kita mengubah momen sakral menjadi sekadar logistik kalender. Apakah kita beribadah kepada Tuhan, atau kita sedang menyinkronkan diri dengan server?

DS
Dewi Sartika

Jurnalis yang berspesialisasi dalam Budaya. Bersemangat menganalisis tren terkini.