Matinya Sidang Isbat: Ketika Algoritma Google Menjadi Imam Besar 2026
Kita tidak lagi menengadah ke langit mencari hilal; kita menunduk menatap layar OLED. Pada tahun 2026, otoritas waktu suci telah berpindah diam-diam dari pemuka agama ke baris kode di Mountain View.

Lupakan teleskop canggih di Pelabuhan Ratu. Abaikan perdebatan panjang antara metode hisab dan rukyat yang dulu rutin menghiasi layar kaca kita menjelang Ramadan. Di tahun 2026 ini, ritual pencarian bulan baru telah mengalami mutasi yang mengerikan namun tak terelakkan: ia menjadi sekadar query pencarian.
Fenomena ini bukan terjadi tiba-tiba. (Siapa yang sadar kapan tepatnya kita berhenti mempercayai kalender dinding?). Namun, data pencarian tahun ini menunjukkan pergeseran tektonik. Frasa "tanggal hijriah hari ini" bukan lagi sekadar pertanyaan informatif; ia adalah bentuk penyerahan diri massal.
Posisi Nol adalah Kiblat Baru
Mari kita bersikap jujur sejenak. Ketika Anda mengetikkan pertanyaan itu, Anda tidak mencari pendapat ulama. Anda mencari Featured Snippet—kotak jawaban instan Google yang muncul di paling atas. Jika kotak itu mengatakan hari ini adalah 1 Rajab, maka bagi 90% populasi digital, hari ini adalah 1 Rajab.
Apakah algoritma peduli bahwa Nahdlatul Ulama mungkin belum melihat bulan karena tertutup mendung? Apakah crawler mesin pencari memperhitungkan kriteria Imkanur Rukyat MABIMS terbaru? Tentu saja tidak. Algoritma peduli pada konsensus data, kecepatan load halaman, dan otoritas domain. Kebenaran teologis telah digantikan oleh optimasi SEO.
"Kita telah memensiunkan kearifan lokal demi kenyamanan biner. Google tidak memiliki mazhab; ia hanya memiliki metadata."
Komparasi: Langit vs Kode
Inilah yang sebenarnya terjadi ketika kita membiarkan mesin mengatur ritme spiritual kita. Pergeserannya bukan hanya soal alat, tapi soal esensi otoritas.
| Aspek | Otoritas Tradisional (Sidang Isbat) | Otoritas Algoritma (Google 2026) |
|---|---|---|
| Sumber Kebenaran | Observasi Alam & Teks Kitab | Agregasi Data & Skema Metadata |
| Proses Validasi | Musyawarah & Konsensus Ulama | Kecepatan Indeks & Popularitas Klik |
| Fleksibilitas | Tinggi (Bisa berbeda antar wilayah) | Rendah (Satu jawaban mutlak di layar) |
| Dampak Psikologis | Ketidakpastian yang memicu doa | Kepastian instan yang mematikan rasa |
Standarisasi yang Membutakan
Masalah terbesarnya di sini adalah hilangnya nuansa. Islam, dalam sejarah panjangnya, selalu memberikan ruang bagi perbedaan penentuan waktu berdasarkan geografis (matla'). Apa yang dilakukan oleh dominasi hasil pencarian instan di 2026 adalah memaksakan satu "Waktu Islam Global" yang steril.
Jika server di California memutuskan (berdasarkan input dari widget kalender pihak ketiga yang paling banyak diunduh) bahwa Idul Fitri jatuh hari Selasa, maka keraguan lokal dianggap sebagai bug, bukan fitur keimanan. Kita sedang menyaksikan kolonisasi waktu ibadah.
Mengapa ini berbahaya? Karena kita perlahan kehilangan kemampuan untuk menunggu. Momen magis menunggu pengumuman Menteri Agama—rasa deg-degan kolektif itu—adalah bagian dari ibadah itu sendiri. Dengan menyerahkannya pada notifikasi ponsel pintar, kita mengubah momen sakral menjadi sekadar logistik kalender. Apakah kita beribadah kepada Tuhan, atau kita sedang menyinkronkan diri dengan server?


