Puasa Qadha di Era Algoritma: Kesalehan atau Sekadar Checklist Digital?
Ketika kewajiban membayar hutang puasa berubah menjadi konten FYP dan notifikasi aplikasi yang obsesif, apakah kita sedang beribadah kepada Tuhan atau menenangkan algoritma rasa bersalah? Sebuah tinjauan kritis tentang komodifikasi niat di era serba instan.

Anda merasakannya, bukan? Getaran halus kecemasan itu. Bulan Rajab baru saja dimulai, Sya'ban mengintip di tikungan, dan tiba-tiba linimasa media sosial Anda berubah menjadi papan pengumuman raksasa tentang "Hutang". Bukan hutang bank, melainkan hutang puasa.
Sebagai seorang analis yang terbiasa melihat pola di balik kekacauan, saya mencium aroma yang berbeda tahun ini. Narasi seputar Niat Puasa Qadha tidak lagi terdengar seperti pengingat lembut dari seorang ustadz kampung; ia terdengar seperti kampanye marketing yang agresif.
"Spiritualitas modern sedang mengalami krisis efisiensi: kita menginginkan pahala dengan kecepatan broadband, sambil melupakan bahwa penyesalan dan niat membutuhkan waktu untuk mengendap."
Industrialisasi Rasa Bersalah
Mari kita jujur sejenak (sesuatu yang jarang dilakukan di Instagram). Kewajiban mengqadha puasa Ramadhan, terutama bagi perempuan yang mengalami haid atau mereka yang sakit, adalah ranah privat. Itu adalah transaksi vertikal antara hamba dan Pencipta. Namun, lanskap digital kita telah mengubahnya menjadi performa publik.
Buka TikTok, dan Anda akan disuguhi template tracker puasa estetik yang bisa diunduh. Influencer "Hijrah Pop" membuat konten 15 detik dengan teks arab Nawaitu sauma ghadin... yang dipotong cepat dengan transisi jedag-jedug. Apakah ini membantu? Secara teknis, ya. Tapi secara substansi, kita perlu bertanya: apakah kita sedang mempermudah ibadah, atau kita sedang melakukan gamifikasi terhadap dosa?
Ada tekanan implisit di sana. Jika Anda tidak memposting progres qadha Anda, atau jika Anda tidak menggunakan aplikasi pelacak ibadah terbaru, seolah-olah kesalehan Anda kurang valid dibandingkan mereka yang menjadikan ibadahnya sebagai konten.
Copy-Paste Niat: Matinya Perenungan?
Masalah terbesar dari era "serba instan" adalah ilusi bahwa akses sama dengan pemahaman. Kita bisa menemukan lafal niat puasa qadha dalam 0,3 detik via Google. Kita membacanya—mungkin dengan terbata-bata—tepat sebelum Imsak.
Tetapi niat, dalam fikih klasik, adalah gerak hati (qashd). Ia adalah tekad yang sunyi. Ketika lafal niat menjadi komoditas digital yang bisa di-copy-paste, ada risiko besar bahwa mulut kita berkomat-kamit sementara hati kita masih sibuk menggulir layar ponsel.
👀 Mengapa 'Senin-Kamis' Jadi Kedok Populer?
Fenomena menarik (dan sedikit licik) terjadi di sini. Banyak orang menggabungkan Puasa Qadha dengan Puasa Senin-Kamis. Secara fikih? Mayoritas ulama membolehkan (dapat dua pahala sekaligus). Namun, secara sosiologis, ini sering menjadi 'tameng'. Mengatakan "Saya lagi puasa Senin-Kamis" terdengar lebih rajin dan saleh daripada mengakui "Saya sedang membayar hutang bolong tahun lalu". Label sunnah lebih 'marketable' daripada label wajib yang tertunda.
Beban Ganda di Pundak Perempuan
Kita tidak bisa membahas topik ini tanpa menyentuh ketidakadilan narasi yang sering luput. Siapa target utama dari semua pengingat agresif tentang Qadha ini? Mayoritas adalah perempuan.
Siklus biologis (haid, hamil, menyusui) membuat perempuan menjadi debitur utama dalam ekonomi puasa ini. Algoritma media sosial tahu itu. Iklan suplemen sahur, aplikasi kalender haid, hingga konten dakwah yang bernada "menakut-nakuti" tentang siksa neraka bagi yang lalai, secara tidak proporsional membombardir layar perempuan.
Ini bukan lagi sekadar pengingat agama; ini adalah beban mental tambahan. Di tengah tuntutan karir dan domestik, perempuan kini harus berurusan dengan "polisi moral digital" yang menghitung hari-hari mereka menuju Ramadhan.
Pada akhirnya, apakah kemudahan akses lafal niat dan pengingat digital ini buruk? Tidak mutlak. Namun, ada garis tipis antara alat bantu ibadah dan komodifikasi rasa takut. Tuhan tidak membutuhkan checklist estetik Anda, dan niat yang tulus tidak memerlukan validasi dari views TikTok.


