Esporte

Bukan Sekadar 90 Menit: Mengapa Laga Persik vs PSIM Adalah Ujian Kedewasaan Sepak Bola Jawa

Lupakan taktik 4-3-3 sejenak. Ada bau gas air mata yang masih samar tercium dari ingatan 2019. Ketika Macan Putih dan Laskar Mataram bertemu, yang dipertaruhkan bukan hanya tiga poin, melainkan sebuah rekonsiliasi sejarah yang tertunda.

TS
Thiago Silva
13 de fevereiro de 2026 às 11:063 min de leitura
Bukan Sekadar 90 Menit: Mengapa Laga Persik vs PSIM Adalah Ujian Kedewasaan Sepak Bola Jawa

Pernahkah Anda kehilangan sahabat karib hanya karena satu malam yang buruk? Di dunia sepak bola Jawa, itulah gambaran hubungan antara Persik Kediri dan PSIM Yogyakarta. Sebelum kita bicara soal siapa yang akan mencetak gol di Stadion Brawijaya hari ini, mari kita putar waktu ke belakang. Jauh sebelum era Liga 1 2026 ini, ada masa di mana suporter kedua tim bisa duduk berdampingan, berbagi rokok, dan menertawakan nasib tim mereka yang naik turun kasta.

Tapi, sejarah punya cara kerjanya sendiri yang kejam.

Luka Brawijaya 2019

Kita tidak bisa membahas laga ini tanpa menyentuh 'gajah di pelupuk mata': tragedi 2 September 2019. Hari itu, langit Kediri kelabu bukan karena mendung, tapi karena asap. Apa yang dimulai sebagai pertandingan sepak bola Liga 2 berakhir menjadi medan pertempuran yang menyisakan ratusan motor rusak dan—yang lebih menyakitkan—putusnya tali persaudaraan antara Persikmania dan Brajamusti.

Sebagai seorang pencerita, saya sering bertanya: seberapa mahal harga sebuah gengsi? Bagi generasi baru suporter yang mungkin baru memegang syal klub tahun ini, rivalitas ini terasa seperti warisan kebencian yang 'harus' diteruskan. Padahal, esensinya jauh lebih tragis: ini adalah kisah cinta yang retak.

👀 [Flashback] Apa yang Sebenarnya Terjadi di 2019?

Pada 2 September 2019, Persik menjamu PSIM di Liga 2. Pertandingan berakhir 2-0 untuk kemenangan Persik. Namun, ketegangan meledak di menit-menit akhir. Gesekan antarsuporter memicu lemparan batu dan invasi lapangan. Ratusan kendaraan di parkiran menjadi korban amuk massa. Insiden ini menjadi titik balik drastis hubungan kedua basis suporter yang sebelumnya dikenal harmonis (mesra). Sejak saat itu, laga ini selalu diberi label 'High Risk'.


Realita 2026: Siapa yang Lebih Siap?

Lompat ke masa kini, Februari 2026. Situasinya terbalik secara mengejutkan. PSIM Yogyakarta, sang tim tamu, datang dengan dagu terangkat. Duduk nyaman di peringkat 7 klasemen, Laskar Mataram di bawah asuhan pelatih asing mereka tampil pragmatis namun mematikan. Sementara itu, Persik Kediri, sang tuan rumah, justru sedang mencari jati diri di papan tengah (peringkat 11).

Namun, sepak bola Jawa tidak pernah dimainkan di atas kertas statistik. Ia dimainkan di dalam kepala dan hati.

IndikatorPersik Kediri (Macan Putih)PSIM Yogyakarta (Laskar Mataram)
Posisi Liga 1 (2026)Peringkat 11Peringkat 7
Kekuatan UtamaKecepatan Sayap (Counter Attack)Soliditas Pertahanan & Transisi
Faktor XTeror Stadion BrawijayaTren Positif Tandang

Lebih dari Sekadar Poin

Mengapa laga ini saya sebut sebagai 'Pillar' bagi kultur sepak bola kita? Karena pertandingan ini adalah termometer kedewasaan suporter Indonesia pasca-transformasi sepak bola nasional.

Jika hari ini Stadion Brawijaya bisa menggelar laga ini tanpa insiden—tanpa ada batu yang melayang atau gas air mata yang ditembakkan—maka kita menang. Bukan Persik, bukan PSIM, tapi sepak bola itu sendiri. Para pemain di lapangan mungkin berjuang untuk karier mereka, tetapi ribuan orang di tribun sedang berjuang melawan trauma masa lalu.

Apakah kita akan melihat 'Derbi Tanah Jawa' ini sebagai ajang balas dendam, atau sebagai momentum untuk menjahit kembali kain persaudaraan yang robek tujuh tahun silam? Di tengah hiruk-pikuk media sosial yang memanaskan suasana, jadilah penonton yang bijak. Nikmati gocekan bolanya, bukan keributannya.

TS
Thiago Silva

Jornalista especializado em Esporte. Apaixonado por analisar as tendências atuais.