Tecnologia

Ilusi Scratch: Mencetak Kreator atau Sekadar Buruh Digital?

Semua orang ingin anaknya menjadi 'The Next Zuckerberg' sebelum bisa mengikat tali sepatu. Tapi apakah kurikulum berbasis blok ini mengajarkan logika, atau hanya melatih kepatuhan pada sintaks?

LO
Lucas Oliveira
21 de janeiro de 2026 às 02:012 min de leitura
Ilusi Scratch: Mencetak Kreator atau Sekadar Buruh Digital?

Mari kita hentikan sejenak tepuk tangan meriah untuk sertifikat coding anak usia tujuh tahun Anda. Di permukaan, gerakan "Coding for All" terlihat seperti demokratisasi keterampilan masa depan. Siapa yang tidak ingin anaknya fasih berbicara bahasa mesin? Namun, jika Anda mengupas lapisan pemasaran edu-tech yang berkilau, ada bau hangus yang menyengat: kepanikan orang tua yang dimonetisasi.

Scratch, platform dengan kucing oranye yang ikonik itu, dikembangkan oleh MIT dengan niat mulia (konstruksionisme). Tapi di tangan kurikulum sekolah yang malas dan bimbingan belajar yang agresif, ia berubah fungsi.

Gerbang Emas atau Kandang Ternak?

Kita sering mendengar mantra ini: "Coding adalah literasi baru." Benarkah? Atau itu hanya cara halus industri teknologi untuk memastikan pasokan tenaga kerja murah di masa depan? (Pikirkan tentang hukum penawaran dan permintaan). Jika semua orang bisa coding, nilai tawar programmer turun drastis.

"Mengajarkan anak coding dengan harapan mereka jadi kaya raya sama naifnya dengan mengajarkan anak menulis alfabet dengan jaminan mereka akan menjadi Hemingway."

Masalah utamanya bukan pada Scratch. Masalahnya ada pada bagaimana kita memperlakukan algoritma sebagai hafalan, bukan pola pikir. Memindahkan blok "Move 10 Steps" tidak serta merta membuat otak anak Anda berpikir komputasional. Itu hanya mengajarkan mereka urutan. Dan urutan, tanpa pemahaman mendalam tentang mengapa, adalah resep untuk menciptakan pekerja pabrik digital, bukan arsitek sistem.

Sihir yang Hilang dalam Transisi

Saat kita terlalu fokus pada sintaks (bahkan sintaks visual), kita melupakan esensi dari ilmu komputer: pemecahan masalah. Anak-anak diajarkan untuk mendapatkan "hasil benar"—kucingnya mengeong, bolanya memantul—tapi seringkali gagal menjelaskan logika di baliknya saat satu variabel diubah.

👀 Apa tanda anak Anda hanya 'menghafal' coding?

Cobalah minta mereka memecahkan masalah logika sederhana tanpa komputer. Jika mereka bisa menyusun blok kode di layar tapi bingung mengatur urutan langkah membuat roti lapis secara logis di atas kertas, mereka tidak belajar algoritma. Mereka hanya belajar mengoperasikan perangkat lunak.


Masa Depan Bukan Milik Penulis Kode

Ironisnya, saat kita sibuk memaksa anak SD memahami loop dan variable, AI generatif sudah mulai menulis kode lebih cepat dan lebih bersih daripada lulusan bootcamp rata-rata. Keterampilan mengetik kode (atau menyeret blok) sedang mengalami devaluasi massal.

Apa yang tersisa? Kemampuan untuk mendefinisikan masalah, etika digital, dan kreativitas radikal. Hal-hal yang sayangnya, seringkali absen dalam kurikulum "klik-dan-geser" yang dirancang untuk kepuasan instan. Kita mungkin sedang mencetak satu generasi yang mahir menggunakan alat, tapi tidak punya ide apa pun untuk dibangun dengannya.

Jadi, sebelum Anda mendaftar ke kelas coding berikutnya, tanyakan pada diri sendiri: Apakah kita sedang membesarkan inovator, atau hanya menyiapkan suku cadang untuk mesin korporat Silicon Valley?

LO
Lucas Oliveira

Jornalista especializado em Tecnologia. Apaixonado por analisar as tendências atuais.