Esporte

Serie A: Renaisans Palsu di Atas Tumpukan Utang?

Tiga finalis Eropa pada 2023 hanyalah fatamorgana. Di balik pesona taktis dan romansa 'Calcio', Liga Italia sedang tercekik utang, stadion usang, dan kesenjangan pendapatan yang brutal. Apakah kita sedang menyaksikan kebangkitan, atau hanya denyut nadi terakhir sebelum keruntuhan total?

TS
Thiago Silva
14 de fevereiro de 2026 às 23:054 min de leitura
Serie A: Renaisans Palsu di Atas Tumpukan Utang?

Mari kita hentikan sejenak narasi romantis itu. Anda tahu yang mana: "Calcio is back!", diteriakkan dengan lantang setelah Inter, Roma, dan Fiorentina mencapai final kompetisi Eropa pada 2023. Itu adalah cerita yang indah, penuh nostalgia tahun 90-an, aroma espresso, dan taktik defensif yang elegan. Namun, jika Anda menyeka kabut emosional itu dan melihat neraca keuangannya, pemandangannya jauh lebih suram. Serie A tidak sedang bangkit; ia sedang bertahan hidup dengan alat bantu pernapasan.

Sebagai seorang analis yang lebih percaya pada Excel daripada emosi, saya melihat liga yang terperangkap dalam spiral kematian finansial, diperparah oleh manajemen feodal dan infrastruktur yang membusuk.

⚡ The Essentials

  • Ilusi Optik: Keberhasilan Eropa baru-baru ini menutupi fakta bahwa klub-klub top (seperti Inter dan Juventus) memiliki utang ratusan juta euro.
  • Kesenjangan TV: Premier League menghasilkan hampir 5x lipat pendapatan hak siar internasional dibandingkan Serie A.
  • Akhir Diskon Pajak: Penghapusan Decreto Crescita pada 2024 mematikan kemampuan klub Italia merekrut bintang asing dengan gaji 'murah'.
  • Era 'Vulture Fund': Kepemilikan beralih dari taipan lokal yang penuh gairah ke dana investasi AS (Oaktree, RedBird) yang dingin dan penuh perhitungan.

Angka Tidak Pernah Berbohong (Tapi Menyakitkan)

Mari kita bicara tentang gajah di dalam ruangan: uang. Atau lebih tepatnya, ketiadaannya. Kesepakatan hak siar TV domestik baru Serie A (2024-2029) dengan DAZN dan Sky bernilai sekitar €900 juta per musim. Terdengar banyak? Tidak jika Anda membandingkannya dengan tetangga kaya di Utara.

Premier League baru saja mengunci kesepakatan domestik senilai £6,7 miliar selama 4 tahun. Tapi jurang yang sebenarnya ada di pasar internasional, di mana Serie A menjadi kerdil.

Metrik (Estimasi 2024/25) Serie A (Italia) Premier League (Inggris)
Hak Siar Domestik (per musim) ~€900 Juta ~€2 Miliar
Hak Siar Internasional (per musim) ~€250 Juta ~€2,1 Miliar
Rasio Pendapatan Klub Terbawah Kritis Sangat Sehat

Ini bukan kompetisi yang adil. Tim yang terdegradasi dari Premier League seringkali mendapatkan lebih banyak uang dari hak siar TV daripada juara Serie A. Bagaimana Anda bisa bersaing di pasar transfer global dengan handicap seperti ini?

Runtuhnya 'Decreto Crescita': Pesta Telah Usai

Selama beberapa tahun terakhir, klub Italia memiliki senjata rahasia: Decreto Crescita (Growth Decree). Skema pajak ini memungkinkan klub menghemat 50% pajak atas gaji pemain asing. Inilah alasan mengapa Inter bisa menggaji Romelu Lukaku atau Marcus Thuram, dan Milan bisa mendatangkan Christian Pulisic.

Namun, pemerintah Italia mencabut fasilitas ini per 1 Januari 2024. Dampaknya? Brutal. (Bayangkan mencoba belanja di butik mewah tapi kupon diskon 50% Anda tiba-tiba ditolak di kasir). Klub Italia sekarang harus membayar penuh untuk bakat yang sama, membuat mereka semakin tidak kompetitif melawan gaji gila Premier League atau Saudi Pro League.

"Serie A telah berubah dari tujuan akhir menjadi inkubator elit. Liga ini sekarang adalah akademi pelatihan taktis bagi pemain sebelum mereka dijual mahal ke Inggris."

Museum Beton: Masalah Stadion

Anda tidak bisa membicarakan masalah finansial Italia tanpa menyebut stadion. Sebagian besar stadion di Serie A adalah monumen beton tua milik pemerintah kota (Commune), bukan klub. Ini berarti klub kehilangan potensi pendapatan hari pertandingan yang masif.

👀 Mengapa renovasi stadion begitu sulit di Italia?

Birokrasi Italia adalah labirin mimpi buruk. Rencana renovasi San Siro atau pembangunan stadion baru untuk AS Roma telah tertahan selama bertahun-tahun (bahkan dekade) karena izin lingkungan, protes lokal, dan politik kota. Tanpa stadion milik sendiri, klub tidak bisa memonetisasi toko ritel, museum, atau area VIP secara maksimal seperti yang dilakukan Tottenham atau Real Madrid.

Era Dana Investasi: Inter dan Oaktree

Kasus Inter Milan adalah mikrokosmos dari seluruh liga. Steven Zhang dan Suning Group membawa Inter kembali juara, tetapi dengan biaya utang yang mencekik. Ketika mereka gagal membayar pinjaman €395 juta, kepemilikan beralih ke Oaktree Capital, sebuah dana investasi AS.

Ini adalah realitas baru. RedBird di Milan, Oaktree di Inter, Friedkin di Roma. Mereka bukan Silvio Berlusconi atau Massimo Moratti yang akan membakar uang demi trofi. Mereka adalah kapitalis ventura. Mereka menginginkan efisiensi, pemotongan biaya, dan trading player. Bagi penggemar yang mendambakan pembelian pemain bintang setiap musim panas, bersiaplah untuk kecewa.

Jadi, bisakah Serie A kembali ke puncak Eropa? Secara sporadis, mungkin. Kecerdasan taktis pelatih Italia selalu bisa mencuri kemenangan knockout. Namun secara struktural, tanpa reformasi stadion radikal dan keajaiban marketing global, Serie A ditakdirkan menjadi liga "feeder" yang indah namun bangkrut.

TS
Thiago Silva

Jornalista especializado em Esporte. Apaixonado por analisar as tendências atuais.