Mundo

AS: Bukan Siapa Presidennya, Tapi Apakah Negaranya Masih Berfungsi?

Lupakan narasi 'pesta demokrasi'. Bagi sekutu di Eropa dan Asia, Washington bukan lagi mercusuar harapan, melainkan sumber volatilitas terbesar. Ketika raksasa sibuk bertarung dengan bayangannya sendiri, dunia mulai mencari pintu keluar darurat.

CS
Camila Santos
26 de janeiro de 2026 às 17:013 min de leitura
AS: Bukan Siapa Presidennya, Tapi Apakah Negaranya Masih Berfungsi?

Kita sering diberitahu bahwa demokrasi memiliki mekanisme koreksi otomatis. Bahwa setelah demam pemilu mereda, institusi akan kembali tegak dan pragmatisme akan mengambil alih kemudi. Benarkah? (Atau itu hanya mantra penenang yang kita ucapkan agar pasar saham tidak panik?). Melihat lanskap politik Amerika Serikat saat ini, optimisme semacam itu terasa bukan hanya naif, tapi berbahaya.

Masalahnya bukan lagi pada "Merah" lawan "Biru". Narasi itu terlalu sederhana untuk konsumsi kabel berita. Masalah sebenarnya adalah kelumpuhan fungsional. Ketika polarisasi bukan lagi sekadar perbedaan pendapat melainkan perbedaan realitas faktual, mesin negara adidaya ini mulai berkarat dari dalam. Dan bagi sisa dunia, karat itu menular.

"Kekaisaran jarang runtuh karena serbuan dari luar. Mereka runtuh ketika biaya untuk mempertahankan kohesi internal melebihi keuntungan dari ekspansi eksternal."

Apakah kita sedang melihat awal dari keruntuhan itu? Mungkin terlalu dramatis. Tapi, kita jelas sedang melihat transformasi Amerika dari 'Polisi Dunia' menjadi 'Pasien Dunia' yang temperamental.

Diplomasi Sandera Domestik

Mari kita bedah mitos "Stabilitas Amerika". Dulu, sekutu di NATO atau mitra dagang di Asia Pasifik bisa mengandalkan Washington karena satu hal: konsensus bipartisan dalam kebijakan luar negeri. Perbedaan domestik berhenti di tepi pantai.

Sekarang? Kebijakan luar negeri telah menjadi sandera perang budaya domestik. Bantuan untuk Ukraina ditahan bukan karena strategi militer, tapi karena manuver pemilu distrik. Perjanjian iklim dibatalkan dan dipulihkan mengikuti pendulum pemilu empat tahunan. Ini menciptakan apa yang analis risiko sebut sebagai "Reliability Discount" (Diskon Keandalan).

IndikatorEra Pax AmericanaEra Polarisasi (Sekarang)
Kebijakan Luar NegeriKonsisten & BipartisanTransaksional & Terfragmentasi
Respon KrisisCepat (Eksekutif Kuat)Lambat (Gridlock Legislatif)
Persepsi SekutuPelindung UtamaLiabilitas Tidak Terduga

Vakum yang Mengundang Predator

Apa yang terjadi ketika Washington sibuk berteriak satu sama lain di Capitol Hill? Kekosongan kekuasaan terjadi. Dan dalam geopolitik, kekosongan tidak pernah bertahan lama.

Beijing dan Moskow tidak perlu mengalahkan Amerika secara militer. Mereka hanya perlu menunggu Amerika tersandung kakinya sendiri. Ketika Kongres AS lumpuh karena ancaman shutdown pemerintah (yang kini menjadi ritual tahunan yang membosankan), pesaing strategis bergerak mengambil alih jalur perdagangan di Afrika atau membangun pangkalan di Pasifik Selatan.

Apakah Anda benar-benar berpikir investor global masih melihat Dolar AS sebagai 'safe haven' mutlak jika setiap kenaikan plafon utang berubah menjadi permainan Russian Roulette ekonomi? Skeptisisme ini bukan tanpa dasar. Bank sentral di seluruh dunia diam-diam menimbun emas dengan laju tercepat dalam beberapa dekade. Itu bukan tanda kepercayaan; itu adalah persiapan untuk badai.

Dunia Pasca-Amerika?

Polarisasi internal AS bukan lagi masalah orang Amerika saja. Ini adalah risiko sistemik global, setara dengan perubahan iklim atau pandemi. Jika "Sistem Operasi" tatanan dunia liberal ini mengalami crash berulang kali, negara-negara lain—mulai dari Jerman hingga Indonesia—terpaksa harus membangun firewall mereka sendiri.

Mungkin stabilitas global masa depan tidak akan bergantung pada siapa yang duduk di Gedung Putih, melainkan seberapa cepat dunia bisa belajar untuk tidak lagi bergantung padanya.

CS
Camila Santos

Jornalista especializado em Mundo. Apaixonado por analisar as tendências atuais.